Sakinah Mawaddah dan Rahmah

Yep, tagline itu adalah dambaan setiap keluarga, do’a yang selalu disampaikan berulangkali. Tidak terhitung sudah berapa kali do’a itu melewati telinga kita, atau terucap dari bibir kita.

Sakinah, yang berarti ketenangan, kenyamanan, dan kecenderungan yang hangat terhadap pasangannya yang halal. Mawaddah artinya rasa cinta, dan Rahmah artinya kasih sayang.

Yang dalam keseluruhannya bisa diartikan sebagai aktifitas yang saling melindungi, menyayangi, menjaga, membantu, serta memahami hak dan tanggung jawab masing-masing.

* * *

Dalam catatan kali ini, saya ingin mengajak Anda untuk mengambil hikmah dari kisah orang lain yang mempunyai masalah dalam rumah tangganya, semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk terus bersyukur.

Sekitar 2 tahun lalu, saya diberi amanah untuk mengelola (bantu optimasi) akun Facebook salah seorang tokoh yang cukup dikenal sebagai pembicara seminar parenting, banyak buku-buku beliau yang beredar di masyarakat, dan mungkin juga pernah Anda baca.

Ada begitu banyak orang yang mengirimkan pesan ke akun beliau, di mana saya juga bisa membacanya.

Saya sangat terkaget-kaget saat membaca kisah-kisah orang di luar sana. Ada begitu banyak orang yang kehidupan rumah tangganya sangat jauh dari do’a yang sudah tak terhitung melintas di telinga itu. Sama sekali tidak membekas, tidak tersisa. Bahkan kehidupan rumah tangganya cenderung seperti neraka. Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari hal-hal ini.

Saya selalu menceritakan kejadian-kejadian ‘aneh’ itu kepada istri, supaya kami sama-sama bersyukur atas apa yang kami dapat selama ini. Dari situ juga kami merencanakan hal-hal yang bisa membantu kami mewujudkan kehidupan yang sakinah-mawaddah-rahmah.

Dalam suatu riwayat diceritakan, iblis mengumpulkan para panglima terbaiknya. Dalam pertemuan itu, iblis mau memberikan singgasana bagi panglima yang memiliki prestasi terbaik selama menjalankan proker (program kerja).

Secara bergantian panglima pilihan iblis itu memberikan laporan. Berbagai macam bentuk kedzaliman disampaikan, tapi belum ada dianggap spesial oleh iblis. Sampai giliran panglima A, dia berkata, “Aku telah membunuh sekian ribu manusia.”

Iblis menganggap itu prestasi bagus, singgasana ingin diberikan, tiba-tiba ada yang menyahut, panglima B melaporkan prestasinya, “Aku telah memurtadkan sekian ribu manusia.”

Iblis menganggap prestasi B lebih bagus. Singgasana tak jadi untuk A, iblis hendak memberinya pada si B, tiba-tiba ada yang memotong, “Tunggu, aku punya yang lebih baik dari itu semua.”

“Aku telah menceraikan sekian ribu manusia.” ujar si C.

Singgasana sebagai simbol keberhasilan seorang panglima berhasil diperoleh si C. Ya, ia berhasil memutus ikatan suci yang dalam Al Quran disebut sebagai mitsaqan-ghalidza. Itulah prestasi terbaik yang selalu dilakukan oleh para syaitan. Mereka berlomba-lomba, melakukan berbagai upaya, demi tercerainya sebuah pernikahan.

* * *

Permasalahan besar rumah tangga selalu bermuara pada perceraian. Ada banyak cara yang bisa dilakukan syaitan. Mendatangkan perempuan lain dalam kehidupan seorang suami, atau sebaliknya. Menciptakan rasa ketidakpuasan pada pasangannya saat ini. Memunculkan rasa lebih baik orang lain ketimbang pasangannya sendiri. Orang lain lebih tampan, cantik, pintar, kalem, telaten, dll. Sedangkan yang tampak pada diri pasangannya hanyalah hal-hal negatif.

Selalu seperti itu permulaannya. Syaitan menanti peristiwa yang ia harapkan; pertengkaran hebat, sampai akhirnya mereka berpesta saat ucapan talak terucap dari mulut seorang laki-laki. Na’udzubillah.

* * *

Ratusan kisah pelik memenuhi inbox akun Facebook beliau. Mata dan hati saya pedih mendapati kenyataan itu. Mengerikan. Saya tidak pernah membayangkan hal-hal semacam itu terjadi di dalam kehidupan. Ternyata memang benar, syaitan melakukannya.

* * *

Siapapun Anda, yang sudah ataupun belum menikah. Jadikan ini sebagai hal yang harus Anda persiapkan. Berkali-kali disebutkan dalam Al Quran ‘aduwwum-mubin, musuh yang nyata. Bagaimana mungkin Allah menyebutkan sesuatu yang ghaib sebagai sesuatu yang nyata. Pasti ada maksud. Selama ini mungkin kita hanya menganggap diri kita bisa terlindung dari mereka dengan membaca ta’awudz dan bertawakkal bahwa Allah ada sebagai penolong.

Untuk mendapat pertolonganNya, ada ikhtiar yang harus kita lakukan. Membuat program-program yang jelas di dalam keluarga adalah salah satu bentuk ikhtiar. Program-program keluarga yang terukur, terencana, dan terevaluasi, setelah itu ditutup dengan do’a. Berharap program-program itu menjadi wasilah untuk mendapatkan pertolongan Allah dalam menyempurnakan tujuan dari terbentuknya sebuah keluarga, hingga dipertemukan kembali di akhirat.

Salah satu kisah horor itu pernah saya tulis lebih dari satu tahun yang lalu di sini. Semoga bisa menjadi pengingat dan hikmah. Nastaghfirullahal’adzhim.

Berhenti dari Web Service

Saya mulai mengenal bahasa pemrograman HTML tahun 2007, menyentuh CSS tahun 2008, sedikit JavaScript di 2010. Pengetahuan yang saya miliki saat itu hanya untuk senang-senang dan membantu beberapa teman online yang memiliki kendala terkait masalah theme.

Tahun 2012 saya menikah. Tahun yang menjadikan tanggung jawab saya berlipat-lipat makin besar. Secara naluri saya berpikir apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Jawabannya adalah web service. Di saat yang bersamaan saya juga punya bisnis yang Alhamdulillah berjalan lancar; online shop. Saya sedang berpikir keran apa lagi yang harus saya buka untuk mengaliri kesejahteraan bagi keluarga saya.

Sambil menjalankan bisnis yang sudah ada, saya meminta izin pada istri untuk membagi waktu lagi mempelajari bahasa pemrograman yang the next level. Jadilah hari-hari saya banyak membuka situs-situs tutorial, download video dari YouTube, dan mempelajari semuanya secara otodidak. Termasuk berlangganan di teamtreehouse.com selama beberapa bulan untuk belajar melalui video-video menakjubkannya.

Dengan skill yang saya punya di akhir 2012, saya mulai memberanikan diri terjun secara profesional. Meski saya merasa skill saya masih cupu. Beberapa website hasil sentuhan saya saat itu seperti salimah.or.id, imz.or.id, dan beberapa lainnya yang saat ini webnya sudah mati karena tidak dikelola si pemilik. Tampilannya masih super sederhana. Termasuk Fimadani yang saat itu struktur pemrogramannya masih acak-acakan (Fimadani sekarang sudah jauh berbeda dari yang dulu, baik dari struktur pemrograman, pengaturan server, dan optimasi lainnya).

Memasuki 2013, Alahmdulillah nama saya mulai dikenal orang. Dalam 1 bulan ada 1 proyek web yang saya garap. Masih kecil memang, tapi paling tidak sudah lumayan untuk meningkatkan jam terbang (skill, komunikasi dengan klien, manajemen waktu, dll). Sampai pertengahan 2013, saya belum berani menyebut diri saya sebagai programmer dengan standar minimal. Saat itu, saya hanya seorang yang mengerti apa itu hosting, domain, bagaimana cara install WordPress, cara setting theme-plugin, dan sedikit tentang CSS, HTML, PHP. Tidak ada customize besar-besaran yang bisa saya lakukan terhadap sebuah theme ataupun plugin secara fungsi (function).

Bulan Ramadhan 2013 menyadarkan saya bahwa potensi programming sangat besar. Ranah bisnis ini adalah ranah abu-abu, di mana harga bisa kita (sebagai programmer) tentukan semena-mena. Ini bukan bisnis kaos yang pembeli bisa menawar setengah harga. Ini bisnis dengan profit luar biasa! Asset bisnis ini menempel langsung dalam diri, yang mahal bukan Sublime Text atau domain atau hosting atau yang lainnya. Yang mahal adalah diri dan kemampuan programmer itu sendiri. Saya biasa ambil profit di atas 5 juta, bahkan 10 juta di setiap proyek yang saya kerjakan. Padahal yang dikerjakan hanya itu-itu saja (Ternyata Cuma Gitu Doang). Belum lagi jika bicara produk digital, wah!

Ramadhan saat itu saya putuskan untuk hiatus sejenak dari online shop, saya diskusi dengan istri mengenai banyak hal tentang pemrograman, tentang rekayasa, tentang potensi, tentang kondisi pasar, dll. Dari diskusi itu kami sepakat bahwa saya harus total dalam mempelajari pemrograman. Saya hiatus dari online shop. Online shop tetap dijalankan oleh istri tapi sangat lambat karena proses pemasaran yang biasa saya lakukan sudah berhenti. Uang tabungan yang ada kami gunakan untuk menjalani kehidupan beberapa bulan ke depan selama saya belajar pemrograman di level yang lebih tinggi.

Di pertengahan Ramadhan saya mencari informasi tempat belajar yang bagus di Jogja. Beberapa tempat saya pelajari, sampai akhirnya bertemu info tentang Pondok Programmer. Saya telpon, yang angkat mas Ruli. Kami bertemu di rumah mertua mas Ruli, ternyata kontrakan saya sangat dekat, tinggal njangkah.

Disepakati untuk membuat sesuatu yang mutual. Saya menjadi guru internet marketing untuk para santri di Pondok, dan di saat yang bersamaan saya jadi murid belajar juga. Sesuatu yang menarik.

Setelah idul fitri, saya mulai aktif belajar dan mengajar di Pondok. Ini komunitas yang menakjubkan, orang-orang dan lingkungan di Pondok sangat asik.

Selama kurang lebih 8 bulan saya menimba ilmu di tempat ini. Di waktu yang sama juga mengamalkan ilmu yang saya dapat, menerima banyak proyek, sebagian proyeknya saya bagi ke Pondok.

Alhamdulillah saya bisa menikmati apa yang saya pelajari. Ini menjadi keran emas, ada banyak sekali kebutuhan keluarga yang bisa terpenuhi di sini. Jauh melebihi online shop yang sudah saya jalani (padahal juga sudah mencukupi).

* * *

Saya lupa ada berapa banyak proyek yang sudah saya garap selama ini. Semuanya memberikan pelajaran berharga untuk saya. Tentang banyak hal. Tentu menangani proyek tidak hanya diisi oleh hal-hal yang membuat bibir tersenyum. Terkadang juga ada proyek yang disertai dengan irisan hati.

* * *

Ada banyak sekali orang yang saya temui, tidak hanya mereka yang berkutat pada web service. Saya bertemu dengan praktisi bisnis di bidang-bidang yang lain. Saya mencari peluang, membuka wawasan, membuat relasi.

Hasil perjalanan bertemu dengan banyak orang itu selalu membuat saya berpikir, merenung, mengambil pelajaran. Tentang waktu, tenaga, pikiran, dan uang. Ada satu pertanyaan yang kemudian menghantui saya, Apa yang sudah dan akan saya lakukan untuk agama dan bangsa? Pertanyaan yang saat itu terus menghantui.

Dalam melakukan apapun, saya dan istri biasa niatkan sesuatu untuk kebaikan banyak orang, tapi pada prakteknya itu seperti tidak terealisasi, meski tiap menitnya selalu saya pikirkan. Apa ya? Apa ya? Apa ya? Saya merasa ada yang salah dalam cara saya mengamalkan niat. Dari niat dan tujuan insya Allah sudah ikhlas dan mulia. Saya merasa saya keliru dalam membagi waktu, tenaga, pikiran, dan uang.

* * *

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya terjadi diskusi yang cukup seru di dalam keluarga saya. Sebuah topik yang pertama kali dilontarkan oleh salah satu adik saya, Hammad Rosyadi (paling kiri pada gambar di atas). Ia membuka diskusi dengan share video di grup WhatsApp keluarga mengenai akhir zaman, tentang usia umat Islam sejak masa kenabian. Tidak banyak ulama yang membahas usia umat Islam ini, hanya ada beberapa seperti Ibnu Hajar Al Atsqalani dan Imam Suyuthi.

Ada sebuah hadits nabi yang mengatakan bahwa usia bumi seperti telunjuk dan jari tengah, di mana jari tengah adalah usia bumi, dan jari telunjuk adalah waktu di mana usia sedang berjalan. Coba Anda sejajarkan telunjuk dan jari tengah, dan perhatikan. Itu disampaikan oleh Nabi menjelang beliau tutup usia. Artinya sudah sangat mepet. Sudah tidak ada waktu.

Imam Suyuthi secara spesifik mengatakan usia umat Islam adalah 1477 tahun sejak Hijriah sedangkan Ibnu Hajar mengatakan 1476 tahun, hal itu mereka ramu dari berbagai hadits tentang usia Yahudi, Nasrani, dan kapasitas keilmuan mereka.

Saat ini sudah 1436 Hijriah. Artinya tinggal 40 tahun lagi usia umat Islam, sampai nanti Allah matikan (dalam keadaan mulia) semua orang-orang beriman secara serentak setelah 7 tahun masa pemerintahan mihajinnubuwwah Al Mahdi.

Hitung-hitungan itu menyadarkan saya tentang kemunculan Al Mahdi. Tahun Hijriah mulai dihitung sejak Nabi melakukan hijrah ke Madinah. Artinya dari 40 tahun sisa usia itu, masih dikurangi 13 (periode Hijriah), dan masih dikurangi lagi masa pemerintahan Al Mahdi 7 tahun (atau 8, atau 9).

Dari situ didapat bahwa Al Mahdi akan muncul kurang lebih 20 tahun lagi. Ia dibaiat pada usia 40 tahun (sama seperti Nabi diangkat menjadi Rasul). Jika memang demikian, saat ini ia sudah ada di tengah-tengah kita dan berusia 20-an tahun.

Dilihat dari hadits nabi yang mengatakan bahwa akan ada 5 zaman yang akan dilalui umat Islam. Maka hitung-hitungan itu sangatlah terlihat jelas sekarang.

  1. Zaman Kenabian (Nubuwwah) dan rahmat
  2. Zaman Khulafaurrasyidin dan rahmat
  3. Zaman pemerintahan raja-raja yang zalim (kerajaan-kerajaan Islam)
  4. Zaman penguasa diktator pembawa fasad dan kegelapan
  5. Zaman Khalifah atau Ummah kedua yang berjalan diatas cara hidup zaman kenabian yakni zaman pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa.

Saya pribadi sangat yakin, kita semua sedang berada di zaman ke-empat. Mulkan Jabbariyan. Kita sedang berada pada puncak kerusakan dunia. Penguasa yang zalim dan serakah.

Manusia yang telanjang di jalan-jalan sudah ada, masjid-masjid megah sudah ada, yang jujur dikhianati yang khianat dipercaya juga sudah ada, padang pasir menjadi hijau juga sudah ada (dengan kemajuan teknologi), LGBT merajalela, maksiat di mana-mana.

* * *

Saya sangat khawatir dengan diri saya dan keluarga saya dalam menjalani kehidupan setelah mati.

“Peliharalah (jauhkan) dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Attahrim: 6)

Di usia yang sudah sangat mepet ini, saya harus segera realistis tentang pertanyaan yang selalu menghantui saya. Apa yang sudah dan akan saya lakukan untuk agama dan bangsa?

Saya dan istri putuskan untuk meminimalisir aktifitas yang kebaikannya hanya melibatkan sedikit orang atau bahkan hanya diri sendiri. Ada beberapa aktifitas yang kami wacanakan untuk dihapus, salah satunya adalah web service (saat itu beberapa bulan yang lalu, masih dalam bentuk wacana).

Memang, web service menciptakan banyak sekali pemasukan, tapi web service juga menutup waktu, tenaga, dan pikiran saya. Sangat sedikit waktu untuk keluarga, apalagi untuk ummat. Satu tahun belakangan ini aktifitas (sumbangsih) saya pada masyarakat menurun dari tahun sebelumnya, itu yang saya rasakan. Produktifitas saya untuk ummat sangat buruk.

* * *

Obrolan mengenai kemunculan Imam Mahdi masih terus terjadi dalam keluarga saya, ternyata saya tidak sendiri, semua orang di dalam keluarga membayangkan hal yang sama. Masing-masing berpikir apa yang harus disiapkan.

Berdasarkan hitungan itu tadi, yang akan bertemu dengan Imam Mahdi adalah anak atau cucu saya (kami sekeluarga), atau kami saat usia 40 sampai 50-an. Bahkan obrolan itu juga sampai pada pertanyaan apa yang harus dilakukan supaya kita bisa menjadi bagian dari 300 orang yang pertama kali berbai’at pada Al Mahdi di Mekkah, dan melakukan sholat berjamaah di Al Aqsha bersama sang Imam, sampai menjadi pasukan terpilih dalam menumpas Yahudi yang dipimpin Dajjal.

* * *

Masing-masing dari kami mulai mempertanyakan bisnis yang salama ini digeluti.

Tanggal 17 kemarin semua anggota keluarga berkumpul ke Magetan. Membicarakan masalah ini secara serius. What should we do?

Abah saya sejak beberapa bulan lalu mengatakan bahwa keluarga ini harus punya pemasukan minimal setiap bulannya, sambil menyebut nominal. “Itu paling minim, paling minim.” Beliau mengatakan itu dengan penuh penekanan.

“Untuk berikrom dan mengayomi ummat secara total harus ditopang oleh pendanaan yang besar.” lanjutnya.

Dari anak-anak Abah, yang sudah fokus berbisnis baru 3 orang. Fat-han (yang pakai kaos putih), Saya, dan Sa’id (pegang kamera HP). Umar (paling kanan) dan Hammad masih meraba. Adik-adik yang lain masih mengasah soft skill seperti yang dulu juga saya dan yang lain lakukan.

Akumulasi 3 bisnis dan 1 bisnis (milik Ummi Abah), masih belum mencapai angka minimum itu setiap bulannya.

Di dalam forum keluarga itu, masing-masing dari kami menceritakan mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mencapai hal itu (yang merupakan bagian dari visi misi keluarga).

“Darah kita sekeluarga telah kita gadaikan untuk mengabdi di jalan Allah.” (Ummi)

* * *

Keputusan saya meninggalkan web service sangat erat kaitannya dengan apa-apa yang sudah saya tulis di atas. Skill yang Alhamdulillah sudah saya miliki akan saya gunakan untuk fokus pada pengembangan startup yang sudah jalan.

Mengapa tidak membentuk tim?

Sudah banyak yang bertanya seperti itu, terakhir pertanyaan itu muncul dalam forum keluarga tanggal 17 kemarin.

Ini alasan mengapa saya tidak tertarik membentuk tim:

Permintaan Pasar Tinggi

Potensi pasar benar-benar menggiurkan memang, dan saya sudah merasakannya.

Kebutuhan dan ketersediaan SDM di Amerika adalah 100 banding 1. Ada 100 orang yang butuh web service, yang bisa melakukan hanya 1 (source: code.org). Di Indonesia ada 10 banding 1.

Apa yang salah dengan ini? Tidak ada yang salah sampai Anda membaca poin selanjutnya.

Programmer Jual Mahal

Diakui atau tidak, hampir semua programmer profesional mengetahui data tentang permintaan pasar yang tinggi itu. Dan iya, programmer jual mahal. Ini yang pada akhirnya membuat programmer pikirannya ke mana-mana. Sangat sulit mengontrol programmer.

Programmer Dipenuhi Oleh Orang-orang yang Well Educated

Programmer, hampir setiap hari buka Google, mencerna banyak informasi yang berlalu lalang. Bagaimana dikatakan tidak well educated?Mereka mengerti bisnis, mengerti peluang, mengerti apa itu startup. Sampai di sini kecenderungan programmer untuk bergerak sendiri sangatlah tinggi. Dan ini berhubungan dengan poin selanjutnya.

Menjamurnya Semangat Entrepreneur

Sudah well educated, ditambah lagi dengan foto-foto mewah kantor Google dan Facebook yang bertebaran di mana-mana. Semangat membangun usaha sendiri juga tinggi.

Mayoritas programmer ingin jadi pemilik perusahaan.

Regenerasi Lambat

Klasifikasi programmer itu harus kuat logika, mengerti permasalahan dan solusinya, kreatif, kebal dengan pekerjaan yang menuntut banyak hal, di bawah tekanan.

Dengan klasifikasi tersebut, tidak mudah mencari programmer handal, ini fakta. Seperti yang sering saya dengar dari kawan-kawan pendiri startup yang saya kenal. Sampai-sampai mereka membuat event untuk mengusik para programmer yang menikmati kesendirian di sudut-sudut kamar. Hasilnya tetap tidak sesuai harapan.

Adalah masalah ketika tahu bahwa mayoritas programmer bersemangat mendirikan perusahaan sendiri, dan dibarengi dengan regenerasi yang lambat. Ini tantangan yang tidak ringan yang pasti di hadapi perusahaan web service.

* * *

Sebenarnya ada solusi dari semua itu. Dana. Klise memang. Di Amerika sudah biasa terjadi transaksi di belakang layar. ‘Menculik’ programmer dari perusahaan lain. Sudah biasa karyawan Google pindah ke Facebook, atau Dropbox, atau Valve.

Programmer mana yang tidak tergiur dengan gaji di Facebook atau Google? Saya pikir ketika sudah disuapi dengan gaji setinggi itu, hilang sudah keinginannya membangun usaha sendiri. Sudah merasa cukup.

Kalaupun seandainya ada dana, saya masih berpikir untuk tidak melanjutkan web service. Waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang ada tetap tersita, persis seperti yang saya tulis di atas. Web service tidak seperti kebanyakan service/jasa pada umumnya. Kalau ada dana, yang ada justru saya gunakan untuk membangun startup yang berkaitan dengan web development, ini lebih realistis.

* * *

Oke, setelah meninggalkan web service, apa yang akan saya lakukan sekarang? Keran pemasukan harus tetap mengalir dan dibuat sederas mungkin, ditambah dengan keinginan Abah yang mempunyai pemasukan minimum.

Saya melakukan cukup banyak filter terhadap jenis bisnis yang cenderung mudah untuk dikerjakan. Artinya tidak menyita terlalu banyak hal (waktu, tenaga, pikiran, dan uang). Kalaupun harus menyita, cukuplah salah satunya. Supaya ada ruang gerak yang bisa saya maksimalkan untuk investasi akhirat.

Dari sekian banyak jenis bisnis yang saya filter (termasuk beberapa juga yang sedang saya jalankan), diputuskan bahwa saya dan istri hanya fokus pada 2 bisnis:

  1. Online shop
  2. Bisnis konten

Online Shop

Bisnis yang sudah saya bangun sejak lama. Sudah banyak asset di sini. Dan Alhamdulillah juga banyak membantu berbagai macam kebutuhan. Omzet yang lumayan. Hanya saja perlu ditata ulang supaya lebih efektif (memberi ruang gerak pada kami). Toko online dikerucutkan pada penjualan:

  1. Buku (populer & best seller) via SEO
  2. Aksesoris (tas, sepatu) via Facebook
  3. Fashion (gamis, jilbab) via Facebook
  4. Kosmetik / Kewanitaan via Facebook & BBM

Empat poin di atas mempunyai nilai transaksi yang amat sangat banyak. Yang semua dikerjakan oleh istri saya (mungkin dalam waktu dekat segera hire beberapa CS). Saya hanya terlibat dalam proses optimasi.

Bisnis Konten

Spesifiknya adalah sebagai Publisher (Medianet, AdSense, AdPlus, dll). Saya pilih ini karena semua pekerjaan bisa selesai dengan efektif. Produksi konten bisa terpenuhi dengan hire beberapa penulis. Proses marketing bisa selesai dengan paid traffic. Tentu ada strategi yang saya bangun supaya hasil bisa sesuai harapan.

Dalam beberapa bulan terakhir, saya membuat 4 situs yang semuanya akan dijadikan situs authority yang fokus pada quality.

Di sini, praktis, waktu, tenaga, dan pikiran tidak tersita. Hanya uang yang perlu disiapkan. Dan Alhamdulillah ada dari hasil tabungan, online shop yang dijalankan istri, dan anggota keluarga yang tertarik menggeluti bisnis ini, juga dari Publisher ini sendiri yang sudah menghasilkan.

Penutup

Ya, ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah saya buat. Tidak sedikit yang mempertanyakan hal ini saat masih menjadi wacana dan rencana. Termasuk dari kawan-kawan di komunitas.

Intinya adalah saya terngiang-ngiang dengan 1476 H. Apa yang sudah saya persiapkan untuk diri saya dan keluarga saya dalam menyambut kedatangan Imam (entah saya, anak saya, cucu saya, atau keturunan ke sekian) yang kemudian disusul menghadap padaNya. Saya ingin mempersiapkan hal ini secara maksimal, seperti saya maksimal dalam urusan-urusan dunia.

Hari-hari ke depan akan kami (sekeluarga) gunakan untuk mengabdi pada masyarakat (mohon doanya), lebih intens terhadap Al Qur’an untuk diri kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mau tergabung dalam program-program yang kami buat. Saya (dan beberapa teman) membangun komunitas bisnis dan Quran gratis untuk anak-anak muda Pesantren Sintesa. Saudara-saudara saya yang lain memilih jalannya masing-masing dalam mengabdi. (Visi Misi Keluarga Dakwah).

* * *

Saya masih sebagai programmer untuk diri saya sendiri (dan mungkin untuk kebutuhan ummat yang mendesak), tapi saya sudah tidak menerima siapa saja yang meminta saya melakukan pekerjaan itu. Saya berhenti dari web service, tidak berhenti dari web development. Saya masih terus melanjutkan karya di bidang ini.

Selamat tinggal web service, itu adalah hari-hari yang panjang dan penuh kenangan bersamamu :)

Mihwar Ekonomi

Yang umum dan sudah dipahami oleh kita (kita?) selama ini ada 4 mihwar atau tahapan. Banyak pihak yang mengatakan bahwa saat ini sedang memasuki tahap terakhir, yaitu mihwar dauli ekonomi. Ya, ekonomi.

Ulala, bahasan apa ini?

Ada banyak hal yang menarik yang muncul dari orang tua saya. Perilaku, cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Seringkali menggunakan cara-cara yang tidak umum.

Abah sama Ummi saya kalo ngumpul (berdua) seringnya bahas bisnis, keluarga, dan ummat. Entah ngumpul saat kondisi tenang, riang, atau lagi diskusi alot (baca: berantem), yang dibahas juga ngga jauh-jauh dari itu. Yang buat saya kagum itu, berantemnya mereka aja ngomongin ummat. Beuh!

Semalam (sebelum tulisan ini ditulis) saya mendapati mereka sedang diskusi alot ngomongin tentang Jama’ah (if you know what i mean), saya segera ketik apa-apa yang meluncur dari mulut Abah. Sengaja mau saya dokumentasikan. Poin-poinnya aja sih.

Jama’ah lupa bahwa ma’isyah keluarga merupakan support penting dalam dakwah.

Keseringan konsolidasi, mabit, termasuk politik, ngga akan berpengaruh secara signifikan.

Dengan mapannya ma’isyah, dakwah bisa lebih maksimal. Setiap kader bisa masuk ke individu-individu yang berpengaruh dalam hal ekonomi. Ada izzah yang dibangun.

Sekarang sekolah pun pontang-panting.

Artinya ketika eranya begini, mihwarnya sudah seperti ini, sudah harus diubah polanya.

Hmm, emang sih, dari waktu ke waktu kurang lebih selalu begitu. Konsolidasi, mabit, strategi politik. Semua tenaga, pikiran, waktu, dan uang digelontorkan secara deras ke situ. Pembahasan mengenai solusi untuk menguatkan ekonomi setiap keluarga kader nyaris tidak ada, apalagi tindakan (action) yang mengarah ke sana. Ini bicara program official ya, bukan agenda seminar-seminar entrepreneur yang diadakan oleh kader dan wajihah, kalo yang begini emang udah sering, tapi karena tidak official maka keseriusan follow up (dana, pembinaan, dll) juga tidak ada.

Kader yang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masih pinjam kanan-kiri itu banyak. Banyaaaakkk. Di beberapa tempat, kader seperti ini disubsidi jama’ah. Alhamdulillah masih ada subsidi di beberapa tempat (tidak semua). Tapi sampai kapan mau disubsidi, disuapin? Harusnya dibina bagaimana ia bisa mandiri tanpa pinjam kanan-kiri. Lagi-lagi, harus official. Ada perintah, ada instruksi, dan sistematis.

Bukannya berniat jahat, beberapa kawan yang saya tahu sangat loyal terhadap jama’ah tapi masih belum lega ekonominya saya racuni untuk berhenti dari amanah dan fokus pada pengembangan diri terhadap ekonomi.

“Kamu berenti aja, halaqoh jangan banyak-banyak, 1 cukup. Amanah yang A, B, C itu dilepas. Dapet apa sih kamu? Pahala? Peduli sama orang lain itu bagus, tapi peduli dulu sama diri sendiri.”

“Lepas semua itu, satu tauuunnn aja. Taun depan kamu mau pegang 10 halaqoh juga silahkan. Tapi pastikan selama satu taun ini kamu belajar bisnis secara tekun. Pahala dan harta insya Allah melimpah.”

Ada yang berhasil saya racuni, ada yang (sepertinya) kurang berhasil. Tapi mindset seperti itu emang harus diubah. Bisa rusak nanti.

Buat yang kurang suka, anggep aja angin lalu. Yang suka boleh share. Yang ngga ngerti yaudah ngga apa-apa, hehe.

Kedatangan Tamu Agung

Hari Selasa kemarin saya kedatangan tamu dari Jakarta. Namanya Agung, jadi ini beneran tamu Agung, lol. Salah seorang punggawa Annida. Ya, majalah yang sempet ngetrend banget beberapa tahun silam. Usianya kini udah 23 tahun.

Sebelumnya kita udah pernah ketemu di Jogja, setahun lalu. Pertemuan kali ini di kampung halaman saya di Magetan. Saya udah 3 bulan ini meninggalkan Jogja, berusaha keras untuk move-on dan membangun hal yang baru di desa. Aaaahh.

Annida digerus sama teknologi. Seperti kebanyakan majalah lain, khususnya yang bertemakan Islam yang udah satu per satu tumbang. Salah satu cara menyelamatkan diri adalah dengan ikut bermain di ranah digital.

Ya kira-kira itulah yang membuat tamu Agung silaturahim (lagi) ketemu saya. Intinya apa potensi yang bisa didapat Annida lewat versi online-nya dan bagaimana cara melakukan itu.

* * *

“Saya udah lewat stasiun Paron nih.” pesan Agung lewat WhatsApp.

Sebelumnya saya bilang kalo udah lewat Ngawi saya minta dikabari. Ngga lama setelah baca pesan itu saya meluncur ke stasiun Madiun sekitar jam 7 pagi.

Saya ajak sarapan khas Madiun dulu. Pecel.

Pecel ada di mana-mana, tapi yang rasa original susah dijumpai di kota-kota lain selain dari daerah asalnya.

Hari pertama dihabiskan untuk bahas problem sekaligus penyelesaiannya. Kita berdua saling ambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang pernah didapet. Selasa itu kita tutup dengan makan bakso di warung bareng anak-anak pesantren yang juga saya asuh.

* * *

Hari kedua kita jalan-jalan ke obyek wisata Magetan. Sarangan. Udara dingin dan pemadangannya yang masya Allah menjadi daya tarik banyak orang untuk dateng ke tempat ini. Kabar baiknya, kita jalan hari Rabu. Sepi! Sarangan serasa milik pribadi, heu.

Kita ngga cuma berdua. Ada adek saya, Umar Habib. Dan anak istri, Farid Zakaria sama Riva Sakina.

Makan sate, beli kacang rebus, mampir ke kebun strowberry, dan ngga lupa mencicipi pentol legendaris Lawu.

* * *

Singkat cerita, penutup hari kedua diisi sama obrolan santai, tentang target jangka panjang, tentang kehidupan dan ehm, rencana pernikahan tamu Agung.

Tepat jam 6 sore, saya anterin tamu Agung ke stasiun, mengantarnya untuk berpisah.

Perpisahan itu selalu memunculkan rasa yang campur baur di dalem hati. Kata orang bijak (lagi), jangan pernah mengharapkan pertemuan jika tak mengharap perpisahan. Gitu.

Diujung stasiun, saya titip salam buat temen-temen Annida di Jakarta. Good luck, semoga nama Annida tetap berkibar untuk generasi muda di era teknologi.

Salah satu majalah favorit saya dulu, ya suka aja sekarang bisa malah bisa bantu kasih saran dan masukan.

gunung

Belajar Ternak Kambing

Yang biasa kita tau kalo lewat warung sate pasti tulisannya Sate Gule Kambing (yang ayam, kelinci, kuda, dll, juga ada). Padahal yang diolah di warung sate itu belum tentu kambing lho.

Saya baru tau tanggal 22 September kemarin waktu belajar ke rumah pak Timan di Ngawi bahwa kebanyakan daging yang diolah di warung makan, katering, dan aqiqah itu adalah domba, bukan kambing. Alasannya nanti coba saya jelasin di bawah, buat yang belum tau aja ya, yang udah tau pasti banyak, hehe.

Jadi intinya, judul tulisan ini cuma kamuflase aja, soalnya kalo ditulis Belajar Ternak Domba itu kayaknya agak gimana gitu, meski sebenernya ngga gimana-gimana juga. *bagian ini rada ngaco

Well, di tempat pak Timan, satu kampung itu kelompok masyarakat ternak domba, dan pak Timan sebagai ketua kelompok. Jadi coba bayangin satu kampung hariannya itu ngurusi domba. Itu tempat yang sangat layak untuk kami (saya, mas Nur, babe) untuk belaja menimba ilmu.

Kami belajar tentang dasar-dasar ternak domba, mulai dari bridal, penggemukan, pangan, kandang, sampai pengolahan kohe (kotoran hewan).

Sampai pak Timan cerita tentang potensi bisnis domba yang lebih asik dibanding kambing. Beliau cerita, “Saya sering diminta warung-warung sate untuk suplai domba ke mereka. Tiap hari 1 domba. Saya ngga sanggup.”

Ya kalau hitung-hitungan 1 hari 1 domba, artinya dalam 1 bulan harus ada 30 domba ready-stock. Kalau ketersediaan domba hanya 30, artinya ngga bisa kontinyu. Jadi ngitungnya harus ditambah rumus masa panen domba yang normalnya 4 bulan. Artinya harus ada 30 domba kali 4 (bulan). Jadi untuk mencukupi kebutuhan 1 warung sate aja butuh setidaknya 120 domba. Mbeeek!

Pak Timan bilang ngga sanggup karena saat ini hanya punya 40 domba termasuk keterbatasan kapasitas kandang, dan pakan.

Nah, kalo ngomongin pakan ini ngga kalah menarik. Semua pangan dari limbah pertanian, damen padi, janggal jagung, kulit kacang, pohon dele, dll. Semua disiapkan satu kali untuk panen 4 bulan ke depan. Dengan 40 domba pak Timan aja, itu ketersediaan pakan butuh ruangan khusus untuk penyimpanan, berkarung-karung super banyak. Beuh.

Tadinya, waktu baru masuk ke rumah pak Timan saya beranggapan hewan ternaknya super banyak, karena waktu saya dateng langsung disambut sama tumpukan pakan yang berkarung-karung tadi sampai meluber ke luar rumah. Ealah, ternyata cuma untuk 40 domba. Speechless.

Ya, peternak sejati ngga ngarit tiap hari. Harus pake ilmu peternakan yang efisien.

Ini alasan kenapa ternak domba lebih menguntungkan daripada kambing

Domba Hewan Koloni

Tidak seperti kambing yang mustahil dijadikan dalan 1 kandang, domba justru semakin happy ketika ia tidak sendirian dalam 1 kandang, itu karena domba hewan yang berkoloni. Pak Timan bilang, kalau ada temennya yang ketinggalan gitu nanti yang lain teriak-teriak.

Kambing kalau dijadikan dalam 1 kandang, yang ada adalah berantem tanduk-tandukan, gigit-gigitan. Egonya super tinggi.

Daging Domba Lebih Empuk

Sebenernya kalo tau ilmunya, semua daging bisa diolah supaya empuk. Di sini kita compare seandainya tanpa diolah secara khusus, daging domba lebih empuk. Artinya ngga butuh waktu dan biaya tambahan hanya sekedar buat dagingnya jadi empuk.

Ini alasan kenapa warung sate, katering, dan aqiqah lebih suka pakai domba untuk daging olahannya.

Pakan Lebih Fleksibel

Domba dikasih pakan apa aja mau, kambing belum tentu. Kambing butuh hijau-hijauan khusus. Proses fermentasi pakan kambing dan domba juga agak berbeda. Domba lebih mudah dan simple proses fermentasinya.

* * *

Dari kiri: Mas Nur, Babe, pak Timan

Jadi ada banyak pelajaran yang kami ambil dari pak Timan. Kami belajar tentang ternak ini karena ada beberapa agenda yang mau kami eksekusi untuk rencana ke depan terkait desa tempat kami tinggal, salah satunya buat perekonomian warga.

Dari hasil studi ini kami mengambil beberapa keputusan.

  1. Memilih domba sebagai hewan ternak, bukan kambing.
  2. Ambil yang penggemukan, bukan bridal atau pernakanan.

Sekian cerita saya. Terimakasih udah baca.

Diterima Google AdSense

Dalam tulisan sebelumnya (Belajar Menggambar) saya bercerita bahwa target mempelajari pemrograman sudah masuk pada tahap yang saya inginkan, kemudian mau fokus ke coret-coret gambar.

Di waktu yang bersamaan, saya mendapat notifikasi email dari Google bahwa permohonan pembuatan akun Google AdSense (GA) saya diterima. Saya mengajukan permohonan ini berbulan-bulan yang lalu, sampai hampir lupa, tapi tiba-tiba saja beberapa saat sebelum tulisan ini ada, saya mendapat notif di email mengenai hal tersebut.

Adsense Diterima

Ya alhamdulillah, meski bisa dibilang saya termasuk yang terlambat gabung di GA, jika dibanding dengan teman-teman lain yang sudah bertahun-tahun lalu bergabung dan sudah meraup puluhan ribu bahkan ratusan ribu dolar. Tidak masalah, justru saya bisa mengambil banyak pelajaran dari teman-teman sekalian mengenai GA dengan mengikuti akun sosmed dan membaca blog kalian.

Seperti yang terlihat di gambar, saya mendaftarkan situs Revorma sebagai situs yang terhubung ke GA. Semua tulisan di sana murni saya tulis sendiri secara manual, sesuai dengan aturan GA ketika kita hendak mengajukan permohonan ke mereka. Selain saya sendiri menyukai hal-hal yang manual jika berbicara tentang SEO dan produk-produk Google, saya ingin membuat sesuatu yang sifatnya sustainable bersama Google. Kurang menyukai yang trafiknya membumbung dalam sekejap, dan mati (deindex) dalam sekejap pula.

Terkait akun GA ini, saya akan menjadikan YouTube sebagai sumber monetize utama, bukan situs Revorma atau situs lain yang saya kelola. Konon, duit di YouTube lebih mudah ngalir daripada situs. Relatif sih, tapi setelah saya pikir-pikir, saya cenderung sepakat dengan pendapat tersebut.

Satu bulan sebelum mendapat email approval ini, saya sudah membeli peralatan untuk rekaman tutorial seperti USB soundcard, headset, microphone, dan menata ruangan kamar supaya nyaman untuk membuat rekaman tutorial seputar internet marketing dan web programming.

Saya memang sudah berniat membuat video tutorial ini sejak lama, saya memikirkannya tanpa peduli apakah nanti akan terhubung ke GA atau tidak. Maka, ketika ada email itu, saya spontan berucap alhamdulillah. Kok yo pas banget gitu lho.

Untuk situs Revorma (dan mungkin beberapa situs lain) akan tetap saya pasang banner GA, cuma sebagai penggembira (seperti yang saya bilang di atas). Meski begitu, saya akan tetap menulis konten-konten original —like always, dan mengikuti aturan main GA supaya sustainable tadi. Ngga apa-apa lah mulai dari $0,1 per hari, kan sambil belajar juga.

Tulisan ini cuma ungkapan rasa seneng aja sih, ngga ada nilai tambahnya, ya cuma begitu aja. Btw, makasih udah baca, hehe.