6 November 2012

Asal Bio

Bismillahirrahmaanirrahim.

Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh.

Sedikit berbagi cerita di sini (tapi sepertinya ngga sedikit, hhe). Kalau boleh dibilang sebenarnya ini bukan sebuah biografi, melainkan sebuah catatan ngawur ala Vatih untuk sekedar menunjukkan eksistensi jati dirinya di dunia maya (baca: narsis).

Persiapkan diri kamu untuk membaca celotehan super panjang.
Mata kamu bisa menjadi minus jika terus melototi layar monitor -yaiyalah kalo terus-terusan. Mata kamu bisa pegel. Leher kamu bisa teyengan (bahasa formalnya teyengan apaan yaa?!). Punggung kamu bisa encok, tangan keseleo, sendi-sendi kesemutan, susah buang air, minum Fatihcetamol, bisa dibeli di Apotek terdekat. Komplikasi!

Intinya, jangan maksain baca halaman ini kalo emang ga mau sia-sia ngabisin waktu dalam hidup kamu.

Tapi kalo kamu masih maksa kekeuh ngotot pengen baca. Yah apa mau dikata. Hal ini terjadi dimungkinkan oleh 2 hal:

  • Pertama, kamu memang tipe orang berpendirian, karena udah dinasehatin panjang lebar tentang risiko dan efek samping, tapi masih teguh dengan kebijakan yang kamu pilih.
  • Kedua, hal ini menunjukkan bahwa tulisan saya merupakan tulisan keren -mwehehe. No komenlah, toh ini juga kamu yang menilai. Ngga ada salahnya kan kalo saya menyanjung tulisan saya sendiri [batuk-batuk gajelas].

Perjalanan maya ini dimulai ketika dahulu jaman mbahula saat internet belum menjadi kebutuhan primer seperti saat ini, mungkin ketika internet masih menjadi kebutuhan tersier atau bahkan berpuluh-puluh tingkat dibawahnya *lebay.

Yup, tentu kalian masih ingat ketika TelkomNet Instan mempromosikan produknya. Pada saat itu internet merupakan sesuatu yang wah! Asal tahu saja bahwa saya mengenal internet jauh sebelum produk telkom itu diluncurkan. Ketika untuk connect ke dunia maya masih menggunakan telepon rumah dan biayanya masih selangit.

Masih segar dalam ingatan mengenai suara khas ketika akan melakukan koneksi. Tet tot tet teeeet tut tet trrrrrrrr….. Bagaimana tidak, wong hampir setiap ada kesempatan saya dan saudara saya selalu mengubek-ubek alamat web yang hanya itu-itu saja. Dulu membuat alamat e-mail adalah sesuatu yang membingungkan bagi saya. Wis bahasane inggris, suruh ngisi kolom-kolom dan password pula.

Saya masih ingat ketika saudara saya keranjingan layanan chatting yang saat itu belum populer. Yahoo messenger. Hampir setiap malam ia melakukan obrolan dengan orang-orang yang sama sekali wajahnya belum pernah ia jumpai. Tertawa sendiri di depan layar monitor yang saat itu masih menggunakan monitor tabung a.k.a CTF, salah-satu benda elektronik yang cukup menguras aliran listrik saat itu.

Saking seringnya, pernah suatu ketika mendapat surat cinta dari Telkom dan PLN dengan struk tagihan yang menunjukkan angka yang membumbung tinggi. Surat cinta yang bisa bikin orang sakit ati.

Pengalaman itu cukup mengesankan hingga kini. Saat di mana anak-anak lain masih berkutat pada televisi dan radio, saya sudah diajak orangtua untuk menjelajahi dunia. Walau menguras kantong, toh ilmu dan pengalaman itu memang jauh lebih mahal. Jadi teringat salah satu ungkapan seseorang yang berkata: Semakin cepat pengalaman didapat, maka kesuksesan akan semakin dekat. Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan tersebut, saya hanya mencoba mengambil sisi positifnya saja bahwa pengalaman memang merupakan sesuatu yang bernilai tinggi.

Mengenai alamat e-mail yang dulu pernah saya buat, sekarang malah sudah lupa, haha. Kalau tidak salah menggunakan provider Yahoo yang saat itu masih menjadi layanan search engine nomor satu dunia sebelum disabotase oleh Google seperti sekarang.

Juga mengenai hobi chatting-nya salah seorang saudara saya tadi, akhirnya ia mendapat banyak kenalan dan di kemudian hari melakukan Kopi Darat bersama beberapa diantara yang sudah dikenal cukup akrab.

Pernah suatu ketika ia melakukan Kopi Darat dengan seorang pecinta hewan di daerah Depok. Saudara saya ini langsung mendatangi rumahnya karena saat itu memang sedang berkunjung ke Depok jadi sekalian ia datangi juga rumahnya. Hasil dari Kopi Darat itu ia mendapatkan sepasang hamster jenis Persi (kalau tidak salah sih, hhe). Makhluk lucu nan imut yang benar-benar menggemaskan.



Jaman dulu Operating Sistem Windows belum populer, karena masih menggunakan OS DOS di mana setiap aplikasi berada pada sebuah disket dengan kapasitas yang hanya 1,44 MB namun harganya muahal sangat.

Windows ’98 saja mulai populer sekitar awal tahun 2000. Dan mulai tahun itu pula perkembangan komputer di Indonesia meningkat pesat, ngga berselang lama muncul Windows 2000, Millenium Edition, dan akhirnya XP. Windows XP sendiri banyak seri-nya.

Berawal dari itu semua, saya termasuk orang yang awal mula menikmati internet di kampung halaman. Orangtua saya sering mengajarkan untuk berada selangkah dua langkah lebih maju dari zaman. Maksudnya ketika orang ramai-ramai menikmati kecanggihan komputer kita sudah menikmati internet, dan ketika internet membooming setidaknya kita sudah mampu menguasai beberapa ilmu tentang internet.

Saya mungkin masih termasuk pemula di bidang web desain, namun setidaknya saya sudah melakukan beberapa langkah lebih maju dari kebanyakan orang yang sibuk menikmati situs-situs jejaring macam Facebook. Tidak bermaksud sombong, karena selain saya mencintai dunia coding saya juga memiliki impian untuk menjadi seorang web developer. Dan alhamdulillah impian itu terwujud dengan hadirnya saya sebagai web develop untuk situs blog saya pribadi -mwehehe.

Dunia web develop memang sudah banyak dilirik, dan beberapa orang yang mencintai dunia coding juga melakukan apa yang telah saya lakukan.

Lakukan apa yang kamu cintai, dan kamu akan mendapatkan sesuatu dari hal tersebut. Setidaknya saya berpijak pada kalimat barusan. Bahkan saya merasa bahwa dunia coding telah mengalihkan dunia saya. Rela menghabiskan waktu, mengurangi jam istirahat, sejenak melupakan makan, meningkatkan produktifitas untuk duduk berjam-jam di depan layar monitor. Dan apa yang saya dapat? Belum banyak memang, namun setidaknya keyakinan akan datangnya hal luar biasa itu telah tertanam dalam dada (deuh bahasane).

Saya akan mengajak untuk mundur ke beberapa tahun lalu. Empat atau lima tahun yang lalu, ketika saya membaca salah satu tulisan saudara saya tentang hobi dan profesi. Saya jadi memiliki semangat impian yang sama dengannya, bahwa suatu saat kelak saya akan berkata pada ummi : “Aku seorang hafidz dan aku adalah web desainer developer.”

Memang mimpi itu belum terwujud sempurna, namun suatu saat saya yakin bahwa impian masa lalu itu akan hadir menjemput saya dengan senyum mengembang. Indah bukan?

Berhubung ini memang catatan ngawur, jadi terserah saya mau nulis apa.
Sekarang saya ingin beralih pada dunia pendidikan. Tapi tunggu dulu, sepertinya kurang pas kalau saya bilang “dunia pendidikan”, dan akan lebih cocok jika saya menyebutnya sebagai “masa-masa sekolah”. Karena mungkin dunia pendidikan yang kamu pahami itu berbeda dengan apa yang saya yakini, hihi..

Saya pengen cerita ketika saya duduk di bangku sekolah.

Awal saya mendudukkan diri di bangku sekolah adalah tahun 1995, karena kecintaan kedua orangtua saya pada Al-Qur’an, maka saya dititipkan pada sekolah swasta bernama Taman Qur’an Al Khoirot, Condet – Jakarta Timur. Entah saya sudah lupa tentang apa yang saya pelajari dulu di sekolah tersebut.

Tak lama setelahnya keluarga saya memutuskan pindah ke daerah Jawa bagian timur. Tepatnya di Magetan. Saya melanjutkan sekolah saya di level Taman Kanak-Kanak pada tahun 1997. Melanjutkan lagi ke Sekolah Dasar pada tahun berikutnya (1998). Ada beberapa pengalaman unik selama saya menikmati jenjang pendidikan di level SD. Selama enam tahun masa belajar, saya sudah melakukan 5 kali pindah sekolah.

  • Kelas 1 selama 1 cawu (tiga bulan) di Madrasah Ibtida’iyah swasta -Madiun.
    Banyak sekali pengalaman menegangkan selama tiga bulan sekolah di sini, bukan lebay atau berlebihan tapi memang begitu yang saya rasakan. Pernah suatu ketika ada salah seorang wali murid datang ke sekolah dan masuk ke kelas yang saya tempati saat sedang jam istirahat. Wali murid itu mendatangi anaknya yang duduk tiga bangku di sebelah kiri dari tempat duduk saya dan berkata dengan agak marah. “Siapa yang nakalin kamu?”. Lalu si anak mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah muka saya. Saya agak kaget. Dan wali murid itu langsung melangkahkan kaki ke arah saya.

    Di dalam kelas yang tadinya ramai oleh hingar bingar suasana jam istirahat itu tiba-tiba menjadi kaku, semua siswa diam dan melongo menyaksikan seorang bocah kelas satu sedang diamuk oleh laki-laki paruh baya yang wajahnya mungkin asing bagi mereka. Tiba-tiba datang dan marah-marah.

    Setelah adegan yang tak seharusnya dipertontonkan itu usai, saya jadi teringat kejadian beberapa hari sebelumnya. Ketika kelas sedang pergantian mata pelajaran, pandangan saya tiba-tiba dialihkan oleh sebuah pensil.

    Andre, bocah dengan tampang putih mulus itu sedang menggenggam pensil dan menggoreskan sesuatu yang saya tidak tahu apa yang ia goreskan. Saya terus memperhatikan pensil itu dari tempat duduk saya. Kemudian pikiran saya terusik untuk bangkit dari tempat duduk, menghampiri bocah itu dan ingin menggenggam pensil yang ia genggam. Sebuah pensil yang memiliki fungsi serupa dengan pensil lainnya. Di ujungnya ada mata pensil dan di ujung satunya ada penghapus. Pensil biasa. Namun menjadi tidak biasa karena memiliki ukuran super-size. Kamu pasti tau atau mungkin pernah liat pensil dengan ukuran segede bagong. Jaman sekarang pensil ukuran bagong mudah ditemui, namun saat saya kecil pensil seperti itu termasuk langka. Benar-benar besar.

    Apa yang kemudian saya lakukan? Ya, saya merampas pensil itu dari genggamannya, dan saya berjalan kembali ke tempat duduk saya tanpa muka bersalah. Saya lupa apa yang saya lakukan tehadap pensil bagong itu. Tak begitu lama saya menguasai pensil itu karena saat itu juga langsung saya balikin pada si empu. Bukan karena saya baik hati, tapi karena si Andre nangis sesenggukan yang membuat saya ketakutan ketauan guru.

    Ada lagi kejadian unik dan masih di kelas yang sama. Suatu hari ketika jam udah menunjukkan pukul 2 siang (kebetulan saya ambil ekskul yang saya lupa ekskul apa yang saya ambil -halah). Intinya gitu lah. Nah pada saat ibu guru menjelaskan materi, tiba-tiba perut saya mules, sakit, berasa seperti ada yang mau keluar lewat jalur bawah (jyah). Namun apa yang saya lakukan? Ngga ada yang saya lakukan selain nahan dengan sekuat tenaga biar ampas dengan bau menyengat tidak keluar dari tempat peristirahatannya. Saya takut ngomong dan minta izin ke wc, soalnya bu gurunya serem, dan suka bentak-bentak. Hanya bertahan sekuat tenaga sambil sesekali kepala goyang-goyang kejang nahan ampas. Sudah cukup lama saya bertahan dan ada keanehan yang saya dapati. Semakin ditahan maka semakin kuat dorongan untuk keluar. Aarrgh!! Kali ini pertahanan saya berpindah ke mata. Menahannya agar air tidak mengalir dari sana, karena ampas dengan bau menyengat udah keburu mbrojol ngga karuan. (psstt… ^,^). Ah, baiknya saya cut sampai di sini aja cerita tentang ini. Karena selanjutnya akan lebih mengenaskan. Huhuhu..

  • Kelas 1-2 di SD Negeri Ngadirejo. Kejadian yang tak kalah menarik juga terjadi di sini ketika jaman itu masih ada program imunisasi masal untuk siswa kelas satu sampai kelas tiga. Saking takutnya disuntik, saya melarikan diri dari sekolah dengan meninggalkan seluruh perkakas yang saya bawa ke sekolah. Benar-benar kabur tanpa status.
  • Kelas 3-4 di Madrasah Ibtida’iyah Al Fatah Magetan. Di sekolah ini saya bertemu dengan berbagai manusia dari seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua ada. Anak-anak dengan berbagai macam karakter dan tempramen yang menurut saya saat itu adalah aneh. Terutama teman-teman dari luar jawa yang suka berkelahi, juga beberapa teman dari Sulawesi yang hobi memburu Ular, mulai dari yang level sawahan sampai kelas berat macam Kobra. Gilee! Mereka menikmati perburuannya, membentuk kelompok menyusuri semak belukar dan saling berteriak jika telah menemukan calon buruan. Ada juga komplotan copet jajanan di sekolah, ngentit jajanan dengan cara gerudukan menyerbu sasaran, sehingga jumlah uang yang dibayar tidak sebanding dengan jajanan yang diambil. Orang-orang nekat dengan tampang polos itu hampir setiap hari melancarkan aksinya. Saya sendiri bingung mengapa kantin sekolah masih setia membuka diri untuk dicolong dagangannya?
  • Kelas 5 di SD Kawedanan. Ini rekor paling mengenaskan sepanjang saya menyelami dunia sekolah yang antah berantah. Tahukah kamu bahwa saya hanya mendekam selama tidak lebih dari sebulan di sekolah ini? Untuk alasan konkritnya tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Terlalu kompleks. Intinya saya tidak suka dengan sekolah glamour tersebut.
  • Kelas 5-6 di SD Bogem (nama yang aneh). Di sekolah ini saya mulai serius belajar setelah sebelumnya lebih menikmati dunia bermain ala anak-anak nakal.

You know lah, betapa pengalaman selalu menjadi kenangan yang terkadang membuat kita tertawa sendiri, senyum-senyum mendadak, atau yang lebih ekstrim adalah keselek makanan pas lagi makan siang, hehe…

To be continued