21 Juli 2015

Klarifikasi

Klarifikasi

Dalam sebuah upaya memperbaiki kinerja media yang saya kelola, muncul beberapa permasalahan baru. Sebuah permasalahan internal yang menempatkan saya pada posisi cukup sulit.

Seorang CEO yang keluar dari sebuah perusahaan adalah hal yang biasa, Steve Jobs merasakannya. Saya pun mempunyai rencana ini, keluar dari media yang saya ikut membangunnya dari nol. Mengeluarkan diri dari media ini merupakan rencana B, sebuah rencana yang jika rencana A tidak berhasil dilakukan dengan baik.

Di sini, saya mau klarifikasi sekaligus menyampaikan rencana A.

Fimadani didirikan oleh 7 orang pada 2011 dan saya adalah salah satunya. Sampai hari ini, tinggal tersisa 2, sebuah seleksi alam (begitu katanya). Pada prosesnya, saya mendapat amanah sebagai pimpinan, karena waktu saya lebih fleksibel, tidak terikat pada instansi atau lembaga lain, saya punya skill yang cukup baik seputar server, internet marketing, dan programming. Sebuah media online akan sangat terbantu dengan skill tersebut.

Saya lebih punya waktu untuk mengenalkan Fimadani pada banyak pihak (saat itu), dan saya melakukannya, sampai sekarang. Saya melakukan itu di dunia nyata dan dunia maya. Di blog, Facebook, Twitter, saya mengenalkan Fimadani, saya mengenalkan bahwa saya bagian dari Fimadani, saya merekomendasikan banyak orang untuk membaca Fimadani. Saya tidak hitung di forum, event, dan momen apa saja saya mengenalkan Fimadani pada banyak orang. Yang pasti sangat sering dan sangat banyak. Belum ditambah dengan viralnya informasi “Fimadani punya si A”. Sebuah konsekuensi yang harusnya diterima dengan amanah menyampaikan konten yang baik dan bertanggung jawab.

* * *

Semua orang berubah, cara berpikir, perilaku, tindak-tanduk. Dari waktu ke waktu. Yang tadinya meyakini sebuah perbuatan adalah benar, bisa jadi beberapa bulan atau tahun kemudian berubah dan meyakini bahwa ternyata hal itu salah, begitu sebaliknya.

2 orang pendiri yang sampai saat ini masih bertahan pun mengalaminya.

Ada perbedaan cara berpikir dalam sebuah perusahaan, lembaga, atau komunitas adalah hal yang biasa, yang umumnya diselesaikan dengan cara yang lebih baik di internal. We have done that. Upaya-upaya untuk tidak lagi melakukan kesalahan sudah saya lakukan, hampir semua individu dalam tim menyepakati dan mengiyakan apa yang saya inginkan untuk Fimadani ke depan.

Di sini, saya menjadikan ini sebagai konsumsi publik karena ada idiom suara Fimadani adalah suara saya. Ini adalah klarifikasi saya secara pribadi untuk meluruskan apa-apa yang negatif dan menempel pada diri saya yang “disebabkan” Fimadani. Idiom yang (mungkin) muncul karena kemana-mana saya selalu bawa nama Fimadani.

Perlu untuk saya katakan bahwa saya pernah melakukan kesalahan di Fimadani, dan hampir semua penulis di Fimadani juga melakukannya, sebagai bagian dari proses, kami orang-orang yang tadinya tidak mengerti apa itu jurnalistik. Hanya saja kesalahan itu memiliki level yang berbeda, ada yang salah sebut nama, ada yang salah informasi, ada yang fatal dengan sengaja mengabaikan etika jurnalistik. Ada yang salah sekali dua kali, ada yang berkali-kali. Mengeluarkan individu yang salah berkali-kali pernah saya lakukan. Secara pribadi, saya sudah sangat lama meninggalkan hal ini (melakukan kesalahan) di Fimadani, lebih memilih untuk tidak menayangkan ketika informasi atau data masih minim dan cenderung keliru, juga sudah mewanti-wanti setiap orang yang punya akses update konten terkait hal ini.

2 orang pendiri ini, saya dan kawan saya, cukup sering diskusi hangat dan panas, terkait dengan konten yang tayang. Baik yang ditegur pembaca ataupun yang tidak. Beberapa kali saya sampaikan keberatan terhadap konten-konten tertentu meski pembacanya sangat sedikit (it’s not about the numbers, not about traffic).

Sejak berbulan-bulan lalu, setiap ada hal yang tidak beres dengan Fimadani, selalu saya yang dimention, mulai dari kata-kata yang santun sampai kata babi, iblis, dll. Itu terjadi karena “suara Fimadani adalah suara saya”. Ya, saya menerimanya.

Sebenarnya adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat memalukan, melakukan kesalahan fatal setelah sebelumnya melakukan permohonan maaf dan menyampaikan untuk berusaha tidak mengulanginya lagi. Saya merasa diri saya seperti orang dungu. Shame on me.

Tapi, semua sudah terjadi. Dan saya akan melakukannya lagi, meminta maaf pada Anda semua untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan. Saya masih berada pada jalan yang salah. Meski sebenarnya di belakang layar saya sudah mempersiapkan banyak hal untuk Fimadani ke depan. Ini (segala persiapan) seperti menjadi tidak berarti sekarang.

* * *

Ini plan A yang sudah saya lakukan beberapa saat sebelum saya menulis klarifikasi ini.

  1. Saya memberikan punishment pada kawan saya di Fimadani yang melakukan kesalahan fatal tersebut dengan menurunkannya dari Facebook Page Fimadani dan menurunkan privilege-nya di website. Tidak lagi bisa posting, sampai ia membuat surat pernyataan pada saya untuk berusaha tidak lagi melakukan posting syubhat dan menyalahi kaidah jurnalistik.
  2. Klausul jika surat pernyataan sudah dibuat, tapi masih ada kesalahan yang kembali terulang, maka plan B dijalankan. Sebagai pendiri, saya atau kawan saya harus keluar dari Fimadani, sebagai sebuah konsekuensi.

Plan A ada untuk memberikan kesempatan bagi kawan saya ini untuk berubah, menjadi lebih baik lagi dalam menyampaikan informasi, lebih santun, lebih nyaman untuk dibaca. Ini menjadi solusi yang menurut saya cukup baik dalam menengahi masalah perbedaan cara berpikir.

* * *

Dari hati yang paling dalam, saya sungguh-sungguh ingin berubah, berbenah. Bagi saya, dosa-dosa ini sudah terlalu banyak, saya pribadi tidak ingin menambah permasalahan yang selama ini sudah ada. Saya pun mengajak kawan saya ini (lagi) untuk mengingat kehidupan yang sementara, dan akhirat yang selamanya.

Mungkin apa yang saya tulis saat ini adalah bagian dari proses perbaikan tersebut, semoga. Saya merasakannya, sebuah rasa yang sungguh tidak enak. Sakit, malu, kesal, dan sedih bercampur. Tapi memang harus dilalui.

Shame on me. Sekian.