5 Juni 2011
Proses Ini Hanyalah Bagian Kecil Dari Kehidupan
"..Ketika kau bertanya tentang kesungguhan niat ini. Maka semua itu akan bisa kau lihat dari bagaimana semua ini dipersiapkan. Begitupula dengan pertanyaan yang sama ketika hal itu dilontarkan padamu, maka semua itu sudah terjawab dengan pasti.."
Sabtu sore, pemuda itu berangkat menuju sebuah kota metropolitan, Jakarta. Menaiki kereta Eksekutif Bima dari Gubeng, Surabaya.
Pertemuan majelis kecil itu akan diadakan pada hari Ahad, sore hari ba’da ashar. Pertemuan yang Insya Allah merupakan proses penentu dari serangkaian proses yang harus dijalani. Ya, memang bukan inti, tapi lebih pada penentu. Karena di dalam majelis kecil itulah segala macam bentuk pertanyaan maupun pernyataan mengganjal bisa diselesaikan dengan komunikasi. Walaupun mungkin tidak mendapatkan hasil akhir yang diharapkan, setidaknya sudah ada sedikit bahan untuk disampaikan sehingga tidak serta-merta menjadikan salah satunya berat sebelah.
Pemuda itu tetap menikmati alur yang memang harus dilaluinya, menjelang hari Ahad pikiran dan perasaannya sudah mulai tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Berhari-hari lalu ia lalui dengan batin dan raga yang bergetar. Sebuah proses yang sangat tidak populer di masyarakat harus ia lalui dengan mempertahankan keyakinan dan keimanan.
Sekitar pukul 6 pagi, ia tiba di stasiun Jatinegara. Langsung keluar dan mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Depok, tepatnya di Cimanggis – Kelapa Dua. Menumpang istirahat sebentar di rumah salah seorang saudaranya.
Setengah 3 sore, ia kembali menumpang taksi untuk menembus kota Jakarta, menuju tempat yang ia tuju. Jalanan protokoler dan tol ditembus dengan kecepatan tinggi. Hingga mulai memasuki komplek perumahan, sambil mengingat-ingat jalan pemuda itu memberikan isyarat pada supir taksi. Taksi berhenti di pertigaan terakhir dekat masjid. Pemuda itu turun dengan terlebih dahulu melangkahkan kaki ke arah masjid. Ibadah Ashar.
“Ya Allaah, hamba tahu bahwa jalan ini merupakan salah satu jalan yang Engkau pilihkan untuk hamba lalui. Dan masih seperti biasanya, hamba mohon kekuatan untuk melalui setiap jalan yang Engkau pilihkan, bukan hanya untuk menjaga harga diri tapi juga untuk menjaga iman dan agama-Mu.”
Pemuda itu keluar dari masjid dan melangkahkan kaki ke arah selatan. Lurus hingga mentok di ujung tikungan jalan. Ia tatap rumah itu lekat-lekat. Bismillah, batinnya mulai ikut bermain dalam episode ini.
“Assalamu’alaikum..” Ucapnya setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ia tahu para penghuni di dalamnya juga sudah bersiap sedia menyambut kedatangan ini. Tak berselang lama pintu itu dibuka. Wajah yang sudah tidak asing lagi. Perempuan yang sudah nampak kerutan pada wajahnya itu menyunggingkan senyum ke arahnya, “Silahkan masuk mas..”.
Mencoba menenangkan hati dan pikiran yang kembali berkecamuk. Sambil mengatur posisi duduk yang nyaman, ia memperhatikan beberapa isi ruangan yang sedang ia masuki.
“Sebentar yaa..” Ucap perempuan itu, seraya masuk ke dalam.
Tak lama kemudian perempuan itu kembali keluar, mendampingi perempaun lain yang juga sudah tak asing bagi pemuda itu. Terlihat perempuan itu menunduk dengan segala keteduhan yang terpancar dalam dirinya.
Seketika suasana menjadi hening. Keheningan yang membuat suasana semakin tidak nyaman.
Ditengah ketidaknyamanan ini, laki-laki yang sebagian rambutnya sudah beruban itu keluar dari balik pintu. Sesampainya dihadapan, pemuda itu langsung menyalaminya.
Proses ini hanyalah bagian kecil dari kehidupan, sebagai media pembelajaran bagi siapa-siapa yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya untuk mengintip setengah-setengah atas permasalahan yang sedang dihadapi.
Hari senin sore sekitar pukul 16.50, pemuda itu pulang ke Surabaya menggunakan kereta yang sama. Berkali bibirnya mengucap istighfar disertai rasa kerdil dihadapan Tuhannya.