Ada Awal dan Ada Akhir

Saya masih ingat ketika dulu memperjuangkan bagaimana ide ini bisa menjadi besar. Meluangkan cukup banyak hal yang berkaitan dengannya, tanpa peduli apa benefit secara materi yang bisa saya dapat dari ide ini.

4 tahun sudah melalui semuanya, dan keputusan berat ini harus saya ambil.

Desember 2015 adalah bulan terakhir saya bersama Fimadani. Tidak ada ceremony, tidak ada kebanggaan, karena ujung dari cerita ini bukan happy ending.

Selanjutnya, tidak akan pernah ada lagi undangan atau acara yang menuliskan Ibrahim Vatih sebagai CEO Fimadani.

* * *

Sudah tidak ada alasan yang kuat bagi saya untuk bertahan di Fimadani.

Saya sudah disibukkan dengan berbagai hal yang menurut saya lebih relevan dengan visi-misi hidup saya sekarang. Mengelola pesantren Sintesa yang berada di bawah Yayasan Badrussalam. Mengelola beberapa project yang saat ini sedang saya tangani. Juga mengelola para santri dan memikirkan bagaimana kelak mereka bisa benar-benar menjadi pribadi yang sukses dan bisa berkontribusi maksimal di tengah masyarakat.

Hari Sabtu tanggal 18 November kemarin eyang saya tutup usia. Beliau adalah ketua yayasan sekaligus pendiri pesantren. Beberapa hari jelang hari wafat sampai hari terakhir beliau, saya ikut menemani, mengurus, dan merawat bersama dengan para anggota keluarga yang lain.

Dalam suasana itu, secara eksplisit anggota keluarga (5 anak eyang) kompak bersepakat bahwa saya dan adik saya (Hammad) yang kelak akan menanggung amanah untuk meneruskan perjuangan eyang. Menjadi bagian dari pengelola pesantren (meski belum diadakan rapat keluarga secara resmi, biasanya untuk keputusan-keputusan semacam ini harus melalui rapat keluarga yang panjang). Amanah yang menurut saya tidak sederhana dan perlu tenaga ekstra.

Dan hal paling mendasar yang memutuskan saya untuk benar-benar mundur dari Fimadani adalah perbedaan pendapat serta cara berpikir yang tidak menjumpai titik temu antara saya dengan pendiri yang lain.

Dan iya, saya mengakui bahwa beberapa bulan terakhir ini Fimadani menjadi ‘aneh’, tidak memiliki ruh sebagaimana bulan-bulan awal media sederhana ini berdiri.

Mungkin, jika perbedaan cara pikir ini bisa diselesaikan dengan baik, saya masih bisa dan masih cukup tenaga untuk memikirkan apa yang harus dilakukan supaya Fimadani bisa melejit dengan berbagai prestasi positif.

Tapi kenyataannya tidak demikian.

Saya memutuskan untuk menyerahkan status kepemilikan saya ke pihak lain dengan harapan perubahan kepemilikan ini bisa membawa angin dan semangat baru.

Semoga dengan ini, Fimadani bisa lebih profesional dan amanah dalam menyampaikan informasi ke masyarakat. Menjadi media yang kredibel, dan tidak lagi memuat konten-konten yang menyulut perpecahan di masyarakat.

* * *

Teruntuk kamu semua yang membaca ini dan merasa pernah tersakiti oleh konten yang muncul di Fimadani, untuk yang terakhir kalinya saya mohon maaf dari hati yang terdalam.

Seandainya kamu mengenal saya secara personal (atau setidaknya pernah bertemu dengan saya), kamu akan tahu bahwa saya bukan tipe orang yang doyan memuat konten-konten kontroversi seperti sebagian konten yang pernah kamu lihat di Fimadani.

Hanya ini yang bisa saya lakukan, memohon maaf. Jika kamu berada pada posisi saya, mungkin kamu akan mengerti mengapa tidak ada pilihan lain bagi saya selain mengundurkan diri.

Sekian. Terimakasih.

30 thoughts on “Ada Awal dan Ada Akhir

  1. Mempertahankan kebenaran di akhir zaman memang sungguh berat, seperti menggenggam bara api. Semoga ini adalah keputusan yang terbaik dan semoga Allah memberikan yang terbaik. Allahumma aamiin …

    Selamat berjuang Mas Bro Vatih & Akhy Hammad. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi.

  2. Masih ingat kala engkau bercerita tentang bagaimana engkau mengawalinya. Bahwa sebuah niatan mulia harus selalu disertai dengan kerja keras, kesungguhan, dan kreativitas yang membara, yang bercahaya. Semoga keputusanmu penuh berkah, mas Vatih. Sesungguhnya sebuah akhiran dari sebuah kisah akan menjadi awalan bagi kisah lain, semoga berkah.

  3. Saya termasuk yg menyayangkan mengapa fimadani ikut2an menghebohkan berita2 kontroversial spt media islam lain yg tak jelas redaksinya.
    Plg tdk skrg sy tau klo trnyata tak semua tim nya berpikir spt itu.

  4. Saya adalah salah satu pihak yang dulu giat dengan apa yang namanya “perang informasi”. Dan mungkin salah satu pemilik website berita kecil yang pernah di email redaksi Fimadani, karena beritanya bertentangan bla bla bla. Mungkin sangking semangatnya.

    Akhirnya, website berita kecil saya itu tutup daripada ribut dengan saudara sendiri yang sebenarnya memiliki idealisme yang sama, dulu. Lalu fokus ke yang lain.

    *lah malah curhat

    Semoga varokah gan!

Yakin Ngga Mau Komen?