Mengapa Tidak Jadi Pegawai Negeri?

Saya sudah sering bercerita pada banyak orang, termasuk orang-orang yang baru saya kenal, bahwa saya tidak sekolah, dan tidak suka sekolah. Tapi entah selalu ditawari peluang untuk jadi pegawai negeri. Untuk beberapa orang, ini bisa jadi pekerjaan mulia, yang diimpikan, dan lainnya sesuai sudut pandang masing-masing. Tapi dari awal saya memutuskan untuk berhenti sekolah, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan bahwa suatu saat saya akan bekerja di kantor, ada atasan, ada deadline yang kadang dipaksakan, harus pakai celana bahan, sepatu pantopel, seragam coklat (atau krem?), dan perkakas lainnya. Saya selalu membayangkan sebuah pekerjaan yang santai, dan bebas melakukan apapun.

Tapi, lagi-lagi ini pilihan. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada satupun orang yang jadi pegawai negeri, dan saya juga tidak bisa membayangkan jika tidak ada satupun orang dengan tingkah polah anomali, dunia akan terasa hambar.

Berangkat pagi, pulang siang, terus begitu selama satu minggu, satu bulan, sepanjang tahun. Naik pangkat, itu juga kalau dapat jatah di pelosok yang tak ada saingan dan rela jauh dari sanak saudara. Setelah itu, pensiun. Rentan waktu diterima kerja hingga pensiun selalu memanfaatkan peluang kredit untuk memenuhi kebutuhan sekunder (dan beberapa premier). Motor, mobil, rumah, dll. Untuk beberapa orang, hal ini menjadi sebuah kesenangan, tapi bagi saya ini membosankan.

Saya selalu membayangkan bekerja di sebuah ruangan yang berisi orang-orang kreatif, bebas, dan liar. Pakaian lusuh, laptop penuh gores, sepatu kumuh, jins balel. Ya meski tidak harus se-tragis itu, you know what i mean.

Sampai sekarang, setiap ada yang bertanya atau menawarkan tentang peluang untuk jadi pegawai negeri, saya hanya menganggapnya seperti suara kendaraan bermotor yang melintas di jalan seberang. Tidak terlalu peduli dan seketika lupa dalam hitungan menit.

Leave a Comment