Memilih Untuk Berbagi

Ilmu yang saya maksud di sini lebih ke ilmu online marketing ya. Saya udah punya keinginan untuk mengajarkan orang lain tentang ilmu ini sejak tahun 2012, meski pengalaman saya saat itu masih biasa-biasa aja di dunia online marketing.

Untuk ilmu satu ini, bahkan sampai saat ini masih banyak orang yang enggan untuk membagikannya ke khalayak dengan alasan yang klise; takut jadi saingan.

Dan emang iya sih, fakta itu ngga bisa dipungkiri, ngajarin orang lain itu berisiko nambah kompetitor. Udah banyak orang yang merasakan dikhianati oleh kawan sendiri. Tapi di satu sisi saya merasa ada amanah yang harus saya tunaikan. Amanah ilmu dari Allah ini bisa jadi salah satu wasilah bagi banyak orang untuk dilancarkan rizkinya.

Sejak tahun 2012 itu udah sangat banyak orang yang saya ajarin ilmu tentang ini. Sekitar 1,5 tahun berjalan saya merasa kok efeknya kecil ya, success rate orang-orang yang saya ajarin itu kecil sekali. Ternyata saya salah dalam mengemas penyampaian. Ngajarin orang itu emang akan berat kalau dikemas dengan cara seminar yang short time.

Saya putuskan momen-momen semacem itu bukan untuk ngajarin, tapi untuk sharing biasa aja. Sampai akhirnya saya bener-benermemutuskan untuk stop dari undangan-undangan untuk ngisi acara seputar online marketing. Kalau mau belajar ya langsung ke tempat saya dengan memenuhi beberapa persyaratan yang udah saya tentukan begini dan begitu.

Sampai akhirnya saya mbangun Sintesa di awal 2015. Ini pertama kalinya saya ngajarin orang yang sesungguhnya. Proses transfer ilmu yang hasilnya bisa maksimal memang harus talaqqi (tatap muka/fisik) dan maqomi (bermukim).

Alhamdulillah, para santri menjelma jadi sosok-sosok yang sangat biasa dalam men-generate traffic tinggi melalui search engine. Dan iya, mereka bisa saja menggeser bisnis saya di halaman 1 dengan ilmu yang sudah mereka punya, dan saya sudah siap dengan hal ini. Menjadikannya bagian dari apa-apa yang harus saya rasakan ketika membangun dan mengelola Sintesa.

Tapi namanya rejeki itu emang ngga ke mana, Allah memberikan saya banyak sekali pilihan untuk mendapatkan nafkah. Mulai dari yang sudah tahap tereksekusi sampai yang masih berupa ide-ide di kepala, sangat amat banyak. Kadang, ide-ide itu saya kasih ke santri untuk mereka kerjakan dengan keuntungan bisnis seluruhnya untuk mereka. Dan ini ngga masalah.

Sisi Positif

Ternyata resiko yang saya hadapi (nambah kompetitor) itu ngga seberapa jika dibandingkan dengan segudang sisi positif yang akan dan sudah saya peroleh. Nah, saya mau ulas beberapa hal positif itu. Dan ini menjadikan saya semakin semangat untuk ngajari para santri di hari-hari berikutnya.

Mendapat Insight Baru

Kalau sebelumnya, untuk tahu sebuah metode akan works atau ngga saya harus ngetes sendiri. Sekarang ngga perlu. Saya dapet banyak laporan begini dan begitu dari para santri. Hampir 100 santri punya begitu banyak pengalaman, yang otomatis pengalaman mereka juga jadi pengalaman saya.

Ketika metode itu gagal, saya tahu tanpa saya harus merasakan sakitnya. Ketika metode itu works, saya tahu tanpa harus saya keluar split test berlebih.

Pesantren Ikut Berkembang

Alhamdulillah, para alumni yang sudah berpenghasilan dengan suka rela menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk didonasikan ke pesantren.

Kami ngga pernah memaksa atau membuat ikatan bahwa sekian persen penghasilan harus masuk pesantren. Itu muncul sewajarnya jiwa manusia, dan menurut saya ini bagus untuk semua pihak.

Semakin banyak alumni, insya Allah semakin Allah mudahkan pesantren ini untuk berkembang.

Bisnis Saya Juga Berkembang

Saya dan beberapa tenaga pengajar punya bisnis pribadi, dan para santri punya kewajiban untuk ikut membantu proses optimasi sampai (harapannya) masuk ke halaman satu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk khidmat para santri untuk kesejahteraan para guru dan pesantren.

Selain mengembangkan bisnis para guru, santri juga ikut mengoptimasi bisnis milik pesantren untuk kepentingn pengembangan pesantren juga.

Punya Banyak Blog Network

Buat yang mengerti tentang teknik optimasi di mesin pencari, backlink adalah salah satu faktor penentu. Semakin banyak alumni, semakin luas blog network (baca: backlink) yang bisa saya bangun.

Tinggal broadcast di grup alumni; Tolong buatin backlink untuk URL ini di blog kalian masing-masing ya.

Blog para santri secara umum mempunyai reputasi yang sangat bagus di mata Google, ketika sebuah URL mendapatkan backlink dari web-web mereka, ngga butuh waktu lama untuk bisa menang di halaman pertama.

Masih Banyak yang Lainnya

Yang jelas sih insya Allah semua yang terlibat dalam proses ini sudah secara otomatis nabung pahala buat di akhirat, baik para donatur, para guru, termasuk para santri (karena terlibat dalam proses optimasi dan pengembangan bisnis pesantren).

Dan faktanya, sampai hari ini, alhamdulillah belum ada tawur hanya karena masalah yang sepele seperti yang dikhawatirkan. Produk ada banyak, ide ada banyak, dan rejeki sudah diatur. Yang penting niatnya dibenerin terus, diluruskan saat belok, diistighfari ketika berlebih, supaya Allah jaga nilai-nilai pahala yang udah ada.

Akhirul kalam, berbagi tidak akan mengurangi rejeki.

6 thoughts on “Memilih Untuk Berbagi

  1. Assalamualaikum ustadz Vatih, utk syaraty belajar selain bertatp muka dan muqim apa hrus menjdi santri?
    Klu non santri apakh bisa?

    Syukran syeikh
    Tabarokarrohman

  2. Untuk memperoleh ilmu yang benar dan bisa diterapkan dengan benar, ternyata memang harus bertemu, berhadap-hadapan, dan muqim ya….
    keren dan meng-inspirasi Mas.
    Pengalaman saya ikut webinar, kursus online dan sejenisnya hanya beberapa saja yang masih diingat, selebihnya belajar sendiri, tanya-tanya ke Njenengan…
    so hasilnya pun nggak maksimal…
    Maturnuwun Mas.

Leave a Comment