Marketing

Apa itu Content Marketing?

contoh content marketing

Content marketing, beberapa orang menyepelekan hal yang satu ini.

Biasanya, mereka akan punya masalah seperti

  • Duh, bingung mau buat konten apa lagi ya?
  • Duh, kok kontenku ga ada traffic-nya?
  • Duh, kok kontenku ga ada engagement-nya?

Apakah kamu juga pernah merasa seperti itu?

Kalau iya, mungkin kamu juga terkena penyakit melupakan content marketing.

Pada artikel ini kamu akan mengetahui seluk beluk content marketing, dari strategi content marketing hingga contoh content marketing.

Apa itu Content Marketing?

Content marketing adalah aktivitas pembuatan konten yang terencana dan dimanajemen dengan baik untuk mendukung program pemasaran.

Apa perbedaanya dengan traditional publicity?

Tradiitional publicity merupakan publikasi yang dilakukan secara tradisional, cirinya adalah interupsi.

Yup, informasi yang diberikan tidak dibutuhkan ataupun tidak relevan dengan user.

Mengapa Content Marketing Penting?

Ada beberapa alasan yang membuat content marketing itu menjadi penting:

Sebagai Perencanaan Konten

Karena content marketing memiliki fokus kepada pembuatan, publikasi dan distribusi konten. Maka, teradpat proses manajemen yang baik untuk mencapai fokus tersebut.

Manajemen yang baik memiliki ciri salah satunya adalah perencanaan yang baik.

Konten yang kamu buat menjadi tidak sia-sia karena terencana dengan baik.

Lebih Mudah Mendapatkan Traffic Besar

Content marketing berbicara secara general, artinya media sosial maupun web termasuk di dalamnya.

Kok bisa dengan menerapkan content marketing lebih mudah mendapatkan traffic besar?

Jawabannya, karena semua direncanakan dengan baik, didasari oleh riset yang baik.

Ketika ingin membuat konten di web, riset dulu, apa yang user cari?

Begitu juga dengan media sosial, sebelum membuat konten, konten seperti apa yang diminati?

Nah, jika kamu berhasil menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja konten yang kamu buat akan tepat.

Hasilnya? Traffic besar menanti kamu.

Build your Brand

Dengan adanya content marketing, kamu bisa membangun brand awareness.

Dengan konten yang unik, brand awareness ini bisa kamu bangun dari media sosial.

Saya pernah mendapatkan studi kasus seperti ini:

Traffic masuk ke website ada di angka 550,000 per bulannya.

Nah, semua itu berasal dari penggerak utamanya media sosial, karena sama sekali ngga melakukan optimasi website alias SEO.

Tetap ada dari search traffic, setelah diriset yang muncul adalah keyword brand-nya.

Ternyata, memang memanfaatkan content marketing dengan baik.

Engage user setiap harinya, membuat konten yang berkaitan dengan user-nya, mempunyai positioning yang tepat.

Pengguna Hanya Peduli dengan yang Mereka Butuhkan

Maksudnya adalah, pengguna hanya peduli dengan konten-konten yang bermanfaat untuk mereka.

Konten tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Apakah kebutuhannya selalu dengan mencari informasi?

Tidak juga! Kadang kala yang mereka butuhkan hanya dengan konten yang menghibur.

Makanya, itu perlunya riset untuk mengetahui kebutuhan mereka.

Strategi Content Marketing

Selanjutnya adalah, bagaimana caranya melakukan strategi content marketing dengan baik dan benar? Bagaimana cara kerjanya?

Tentukan Tujuan

Pertama kali adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai.

Untuk membuat tujuan yang jelas, setikdanya harus memenuhi unsur S.M.A.R.T

Apa itu unsur S.M.A.R.T?

S.M.A.R.T adalah kependekan dari specific, measurable, achievable, realistic, and timely.

  • Specific, tujuan yang kamu buat haruslah spesifik, jelas.
  • Measurable, tujuan yang kamu buat haruslah dapat dihitung dengan satuan ukur tertentu.
  • Achievable, tujuan yang kamu buat haruslah dapat dicapai.
  • Realistic, tujuan kamu bukan tidak boleh terlalu tinggi, namun harus melihat sumber daya yang anda.
  • Timely, artinya tujuan kamu harus dapat ditentukan oleh batas waktu.

Sebagai contoh:

Goal: Meningkatkan search traffic ke 50,000 kunjungan per bulan di tahun 2021

  • Peringkat 1-5 pada kata kunci A,B,C,D pada bulan ke-6
  • Memiliki 120 konten pada bulan ke-3
  • Backlink mencapai 500 link pada bulan ke-4

Goal: Meningkatkan followers media sosial ke 50,000 followers pada tahun 2021

  • Memiliki 120 konten pada bulan ke-4
  • Rutin update konten media sosial
  • Engagement rate pada tingkat 7%

Pahami Jenis Konten

Setelah menentukan tujuan yang ingin dicapai, saatnya kini memahami jenis-jenis konten yang dapat dibuat.

Saya biasanya menggunakan content matrix untuk menentukan jenis konten yang tepat dengan tujuan yang sudah ditetapkan diawal.

content matrix dalam content marketing

Terdapat 4 kategori konten dalam content matrix

Educate, pada kategori ini berisi konten yang akan mengedukasi audiens.

Jenis konten ini dapat dikatakan mudah, karena tujuannya adalah awareness dan menggunakan sisi rasional.

Jika kita dapat memberikan bukti-bukti bahwa konten yang kita berikan itu penting, maka dapat dikatakan konten tersebut berhasil.

  • Infografis
  • Artikel infografis
  • Video demo/cara penggunaan

Entertain, pada kategori ini merupakan jenis konten yang akan menghibur audiens.

Biasanya, entertain ini akan meningkatkan engagement rate.

Pada kategori ini, membutuhkan kreativitas untuk memahami emosional dari audiens agar konten yang kita berikan dapat tersampaikan dengan baik.

  • Quiz
  • Games
  • Kompetisi

Convince, kategori ini merupakan jenis konten yang mengajak audiens melakukan sesuatu secara rasional dengan tujuan akhir adalah pembelian.

  • Konten deskripsi produk
  • Studi kasus penggunaan produk

Inspire, kategori ini merupakan jenis konten yang mengarahkan audiens kepada pembelian secara emosional.

  • Endorsement
  • Review produk

Pilih Metrics Content Marketing yang Tepat

Selanjutnya adalah menentukan metrics. Metrics adalah alat ukur, dalam hal ini untuk mengukur performa content marketing yang kamu lakukan.

Hal ini dilakukan agar kamu tidak akan kebingungan bahwa konten yang dipublikasi sudah efektif atau belum.

Ada tiga jenis metrics:.

Basic Metrics, metrics ini digunakan untuk menjawab:

  • Seberapa banyak konten ini tampil?
  • Seberapa banyak konten ini dilihat orang?
  • Berapa engagement rate nya?

Maka yang dilihat; impressions, reach, likes, comments, share.

Lead-gen metrics, metrics ini digunakan untuk menjawab “seberapa banyak lead yang dihasilkan?”

Definisi dari lead sendiri (menurut saya) lebih seperti orang-orang yang tertarik pada produk kamu.

Hal yang perlu diukur; form yang dipenuhi, berlangganan email ataupun blog, melakukan follow terhadap akun media sosial, atau melakukan pendaftaran.

Sales metrics, tentu saja metrics ini digunakan untuk mengukur uang yang dihasilkan dari suatu konten. Semisal, dari konten A, ternyata dapat menghasilkan penjualan produk sebanyak sekian produk.

Sales metrics ini berkaitan dengan lead-gen juga, misal dari yang mendaftar dari suatu konten, berapa yang terkonversi membayar? itu juga bisa.

Lalu, bagaimana caranya memilih metrics content marketing yang tepat?

Pastikan metrics yang kamu pilih sesuai dengan tujuan yang kamu sudah tentukan di awal.

Kamu tidak bisa menggunakan sales metrics jika tujuan kamu adalah meningkatkan followers media sosial. Maka, yang harus dipakai ya lead-gen metrics.

Kenali Audiens

Bagaimana caranya mengenali audiens?

Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk mengenali audiens kamu.

Mengetahui Audiens Pada Website

Jika kamu ingin mengetahui audiens yang berada di website atau blog. Maka, Google Analytics adalah jawabannya.

Melalui Google Analytics, kamu bisa mengetahui demografi, dari mulai umur, pekerjaan, hingga device yang digunakan. Selain itu, kamu juga bisa mengetahui geografi dari audiens kamu.

Dengan begitu kamu akan lebih mengerti tentang siapa sih audiens kamu.

Untuk media sosial, kamu bisa memanfaatkan insights dari setiap platform. Seperti:

  • Instagram Insights
  • Facebook Insights

Ketika audiens kamu sudah cukup besar, kamu akan mengetahui siapa audiens kamu sebenarnya, dari demografi hingga geografi. Tapi, perlu diakui tidak akan sedetail seperti yang ada di Google Analytics.

Pahami Audiens Butuhkan

Bagaimana caranya memahami yang audiens butuhkan?

Untuk membuat konten artikel blog/website, kamu bisa memahami yang audiens butuhkan dengan melakukan keyword research alias riset kata kunci.

Yup, riset kata kunci sangat penting untuk memahami apa yang mereka butuhkan.

Kamu akan mengetahui apa yang sebanarnya yang mereka cari.

Terdapat beberapa artikel yang bisa kamu baca untuk memahmi cara riset kata kunci:

Lalu bagaimana dengan audiens media sosial?

Untuk audiens media sosial, kamu bisa memanfaatkan insights. Selanjutnya kamu bisa mencari konten dengan engagement tertinggi.

Kamu bisa menyortir seperti dibawah ini.

Selanjutnya, kamu bisa mengklasifikasikan konten tersebut.

  • Apakah dia termasuk konten edukasi? entertainment? convince? atau inspire?

Setelah itu, kamu bisa membuat konten yang sejenis dengan materi yang berbeda.

Distribusi Konten

Selanjutnya adalah distribusi dari konten. Mau diberikan kemana saja sih konten ini?

Saya sendiri mendefinisikan distribusi ini sebagai dua jalur:

  • Melalui website atau blog
  • Melalui media sosial

Pahami Alur Pembuatan Konten

Selanjutnya, kamu harus memahami alur pembuatan konten.

Okay, saya memisahkan antara alur pembuatan konten untuk website/blog dengan konten di media sosial.

Alur Pembuatan Konten di Media Sosial

alur pembuatan konten media sosial

Terdapat 4 pihak dalam alur pembuatan konten:

  • Content strategist, sebagai yang bertanggung jawab untuk melakukan content briefing. Ia bersama anggota yang lain melakukan brainstorming untuk menentukan konten yang akan dibuat.
  • Content writer bertanggung jawab untuk menulis caption ataupun mendeskripsikan konten yang akan dibuat.
  • Graphic designer, sebagai pihak yang memvisualisasi gambar yang akan dipulbikasi
  • Admin media sosial berperan khusus untuk mempublikasi konten tersebut.

Alurnya:

Adanya content briefing/brainstorming, dilanjut deskripsi konten dan caption oleh content writer yang divisualisasikan oleh graphic designer.

Setelah itu, melakukan review oleh content strategist, akhirnya akan dipublikasi oleh admin media sosial.

Bagaimana jika tidak terdapat 4 pihak didalamnya?

Jika dalam keadaan tidak ideal seperti diatas, kamu bisa mengalihkan pekerjaan ke salah satu pihak saja.

  • Content strategist merangkap sebagai content writer
  • Content writer merangkap sebagai admin media sosial

Dengan begitu alur juga bisa lebih pendek, namun beban kerja juga bisa lebih berat.

atau dengan

  • Content strategist merangkap sebagai content writer dan admin media sosial

Ini situasi paling minimun dengan dikerjakan dua orang saja.

Kenapa designer tidak dirangkap?

Jawabannya:

Sudah beda jenis pekerjaan alias tidak sesuai, ditambah beban kerja akan semakin berat.

Kebiasaan di Indonesia, content writer ada juga yang digabung dengan designer, hadeh😌

Tools untuk Manajemen Konten Media Sosial

Saya menggunakan dua tools:

  • Trello
  • Google Spreedsheets

Trello

Saya menggunakan konsep kanban, yaitu proses todo-doing-done. Memisahkan pekerjaan berdasarkan status pekerjaanya.

Ilustrasinya seperti dibawah ini:

apa itu content marketing

Kamu bisa menggunakan board ini dengan menduplikatnya, boardnya bisa kamu dapatkan disini.

Google Spreadsheets

Kamu juga bisa menggunakan Google Spreadsheets, lebih sederhana, menurutku kekurangannya cuma kurang intuitif saja.

content marketng template

Kamu bisa mengunduh atau mengcopy social media content calendar template ini.

Bagaimana dengan yang blog/website?

Alur Pembuatan Konten Website/Blog

Pada dasarnya, alur yang digunakan mirip kok, jika digambarkan akan seperti ini:

alur content marketing artikel

Yup, lebih sederhana dibandingkan media sosial. Tedapat 2 pihak saja:

  • Content Strategist sebagai orang yang melakukan riset kata kunci dan membuat draft artikel.
  • Content writer menerima draft artikel dan menuliskan artikelnya.

Namun, bisa juga kamu menambahkan graphic designer jika ingin menambah grafis yang lebih profesional (alias ga ngambil dari Unsplash, haha🤣)

Lalu, tools apa saja yang bisa dipakai?

Kamu bisa menggunakan editorial calendar template seperti dibawah ini:

editorial calendar template

Kamu bisa mengunduh atau mengcopy editorial calendar template ini.

Fun fact, kamu juga bisa menggunakan metode kanban dengan Trello seperti yang digunakan dalam mengatur konten artikel.

Beberapa teman saya ada yang menggunakan metode ini untuk mengatur belasan penulisnya.

Okay, selanjutnya?

Menyiapkan Konten

Bagaimana caranya membuat konten yang baik?

Konten yang baik dimulai dari riset.

Entah media sosial ataupun untuk blog/website, kuncinya riset dulu.

Riset untuk Konten Blog

Tahapan riset untuk konten blog biasanya ada dua;

  • Riset niche
  • Riset kata kunci

Riset niche berfokus kepada topik blog secara umum, saya anggap temen-temen sudah menentukan ini di awal sekali ya.

Riset kata kunci berfokus kepada konten yang akan ingin dibuat. Bagaimana caranya?

Okay, karena sudah sering sekali vatih.com membahas riset kata kunci, saya berikan link tutorialnya saja:

Riset untuk Konten Media Sosial

Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk riset konten media sosial:

  • Search by Hashtag
  • Mengintip Kompetitor
  • Buka Instagram Insights

Search by Hashtag memanfaatkan hashtag populer untuk mencari post dengan engagement yang tinggi.

Kamu bisa menggunakan tools seperti Virol ataupun hanya menggunakan tombol search yang ada di Instagram.

Mengintip konten kompetitor pun juga bisa, semisal kamu sudah membuat list siapa saja kompetitormu di media sosial.

Selanjutnya, kamu bisa menggunakan tools Ingramer Analyzer untuk melihat berbagai aspek, seperti:

  • Post paling banyak disukai
  • Post paling banyak komentarnya
  • Waktu post dengan engagement tertinggi

Menurut saya, ini tools gratis terlalu lengkap🤣

Menggunakan instagram insights seperti yang sudah kamu lakukan sebelumnya, kalau kamu agak males melakukan riset yang mendalam, kamu bisa memanfaatkan data yang sudah ada seperti ini.

Membuat Konten

Untuk membuat konten artikel blog, saya tidak akan bahas panduan detailnya.

Karena, vatih.com sudah menyiapkan sangat lengkap:

Bagaimana dengan konten media sosial?

Konten media sosial biasanya terdiri dari dua, grafis dan caption.

Dari sisi grafis kamu bisa memanfaatkan canva untuk membuat desain yang menarik, karena template-nya banyak sekali.

Dalam media sosial, dikenal juga brand story. Unsur yang menciptakan khas dari merek kamu. Ada beberapa elemen yang harus dipenuhi:

  • Spesifik, konten yang dibuat harus sesuai dengan audiens. Kita sudah bahas sebelumnya.
  • Unik, harus ada pembeda antara kita dan kompetitor. Bisa dari sisi grafik, warna, copy khas (bisa menggunakan panggilan tertentu)
  • Berikan solusi terhadap masalah, ini solusi dari kami.

Beberapa tips ini juga bisa kamu gunakan dalam membuat desain yang menarik:

  • Gunakan warna yang kontras.
  • Gunakan rasio 1:1 dengan resolusi 1080×1080, alasannya supaya tidak di compress oleh Instagram jika diatas resolusi tersebut.
  • Kamu bisa pindahkan caption panjang yang sifatnya informatif ke grafis agar lebih menarik.

Bagaimana dengan caption-nya nya?

  • Masukan kalimat yang penting pada awal caption, karena ada batasan 125 karakter sebelum ada tulisan “see more“.
  • Panjang caption yang ideal berkisar 138-150 karakter. (berdasarkan sprout social)
  • Jika kamu merasa teks dalam grafis sudah cukup menjelaskan, kamu bisa menggunakan caption sebagai call to action saja.
  • Gunakan hashtag sebagai pelangkap, tapi jangan spamming cukup 5-10 hashtag saja.

Beberapa referensi tips instagram:

Publikasi Konten

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum melakukan publikasi konten:

Konten Artikel

  • Kamu bisa mengecek kembali judul dan meta tag-nya
  • Waktu publikasi tidak begitu berpengaruh, karena untuk muncul di SERP juga butuh waktu

Konten Media Sosial

Berbeda dengan konten media sosial, hari dan waktu publikasi konten menjadi hal yang sangat krusial.

Bayangkan, kamu teriak-teriak di pasar ketika tidak ada orang.

Hal itu sama juga dengan media sosial.

Ketika kamu posting ketika audiens kamu tidak aktif, kamu layaknya teriak di pasar yang tidak ada orangnya

Kamu harus perhatikan Instagram Insights untuk menemukan waktu yang tepat untuk posting.

Saya sudah pernah membahas caranya di artikel Cara Jualan di Instagram.

Evaluasi Konten

Evaluasi konten ini tergantung dengan metrics yang digunakan.

Kita bisa menggunakan konsep AIDA yang ada pada sales funnel untuk menggambarkannya.

sales funnel

Basic metrics digunakan untuk mengukur awareness hingga interest.

Impressions termasuk dengan awareness, namun selanjutnya seperti engagement itu termasuk interest.

  • Biasanya akan mengukur impressions per engagement
  • atau mengukur reach per engagement

Hasil metrics engagement ini bisa kamu bandingkan dengan rata-rata industri, caranya:

  1. Kumpulkan semua kompetitor kamu
  2. Analisa engagement rate mereka dengan Engagement Rate Calculator
  3. Bandingkan milikmu dengan kompetitor lainnya

Lead-gen metrics, dapat diukur dari awareness hingga decision.

  • Lead gen metrics dapat mengukur variabel consumption metrics per lead
  • bisa dengan impressions per lead
  • atau biasanya menggunakan clicks per lead.

Sales metrics, dapat diukur dari awareness hingga action, karena tujuan akhirnya pembelian.

  • Untuk mengukur sales metrics yang akurat, biasanya hanya mengukur lead gen per sales.
  • atau menggunakan ROAS (return on ads spent) dengan pendekatan biaya iklan per sales.

Contoh Content Marketing

Saya akan coba memberikan salah satu contoh studi kasus dalam membuat content marketing:

Tujuan atau Objective

  • Akuisisi Pengguna sebanyak 150,000 dalam waktu 10 hari

Jenis konten yang dibangun

  • Convince: Memberikan tutorial bergabung.
  • Educate: Memberikan value edukasi untuk user.

Metrics

  • Metrics utama: Lead-gen, mengukur banyaknya lead yang masuk.
  • Secondary metricsBasic Metrics, mengukur banyaknya engagement dalam post.

Merancang Funnel

Semisal, funnel yang dibuat adalah:

Konten media sosial -> link sign up -> sign up

Konten Media Sosial

Instagram Follower: 431,000 followers

Twitter: 61,000 followers

Karena terdapat dua jenis konten yang ingin dibangun, saya membaginya menjadi konten utama dan konten pendukung.

Convince sebagai, konten utama:

posting instagram

caption media instagram

Postingan berjenis convince dapat dilihat dengan ciri:

  • Memperlihatkan deskripsi produk
  • Mengajak audiens untuk menggunakan produk
  • Memberikan petunjuk penggunaan produk

posting twitter

posting twitter

Educate sebagai, konten pendukung:

Dalam content marketing, konten ini bertujuan untuk meningkatkan engagement rate dari akun media sosial.

contoh educate content contoh educate content

  • Call to action yang digunakan adalah ajakan likes/comment/share.
  • Konten bersifat edukatif atau memberikan informasi kepada audiens.

Waktu Posting

DIsesuaikan dengan keadaan Instagram Insights dan Twitter Insights.

Cara melihat waktunya ada di artikel Cara Jualan di Instagram.

Mengukur Hasil

Diawal menggunakan dua jenis konten dan dua metrics yang berbeda.

Educate dengan Basic Metrics

  • Konten Puasa:
    • 11,000 likes & 80 comments
    • Engagement Rate: 2,55%
  • Konten TPS:
    • 6,100 likes & 300 comments
    • Engagement Rate: 1,48%

Setelah itu, bandingkan dengan engagement rata-rata industri atau rata-rata secara umum yang disesuaikan dengan tingkat follower.

Convince dengan Lead-gen Metrics

Diawal sudah menentukan funnel-nya akan seperti apa, yang perlu dilakukan adalah menjabarkan angkanya dan menghitungnya.

  • Konten Pendaftaran Instagram:
    • Impresi : 800,000
    • Engagement: 101,00 likes & 80,000 comments
    • Links clicks: 70,000
    • Pendaftar melalui link: 57,000
  • Konten Twitter
    • Impresi : 80,000
    • Engagement: 20,500 likes & 30,000 replies.
    • Links clicks: 15,000
    • Pendaftar melalui link: 11,000

Ada beberapa variabel yang bisa dihitung:

  • CTR: Klik per Impresi
    • CTR Instagram: 8,75%
    • CTR Twitter: 18,75%
    • CTR semua: 9,65%
  • Conversion Rate: Pendaftar per Klik
    • Conversion rate Instagram: 81,42%
    • Conversion rate Twitter: 73,3%
    • Conversion rate semua: 80%

Ada beberapa insights yang bisa kamu ambil, contohnya:

  • CTR twitter lebih tinggi, user merasa lebih menarik untuk klik link dari twitter
  • Conversion rate dari instagram dan twitter dapat dikatakan mirip, artinya landing page dirasa sudah cukup baik
    • Semisal, CTR tinggi, namun conversion rate akhirnya rendah, diagnosis pertama adalah ada yang aneh dengan landing page membuat orang jadi tidak mau mendaftar.

Solusi yang ditawarkan

  • Karena masih dibawah target, bisa menambah post reminder untuk mendaftar
  • Bisa mengulik caption agar lebih sederhana dan mudah dipahami

Kesimpulan

Memang, content marketing ini penting. Terutama agar konten yang kamu produksi itu punya tujuan, sesuai kebutuhan, dan tertata dengan baik.

Strategi content marketing yang tepat akan mempermudah untuk mencapai tujuan bisnis kamu.

Kamu punya permasalahan mengenai content marketing, ataupun ada yang mau didiskusikan?

Feel free untuk berkomentar di kotak komentar!

Ilmu Powerful Lainnya

Ada banyak insight singkat-menarik yang ditulis di channel Telegram, tapi ngga ada di blog ini karena emang khusus buat catatan-catatan yang singkat-padat-jelas. Cek sekarang.

Pelajaran Lainnya
topik ngobrol
30 Topik Ngobrol Biar Ngga Garing
Membuat Landing Page Secara Profesional

Yakin Ngga Mau Komen?